Wednesday, March 9, 2016

Antara Dakwah Dan Sekolah (1)

Bismillahirahmanirahim


Menjadi seorang aktivis dakwah bukanlah mudah,  menjadi  soleh dan mendakwahkannya dengan segala tahapan, perencanaan dan strategi bukan semudah menatap mentari pagi seperti mereka yang tinggal dipesisir pantai, tak seindah pemandangan hijau di puncak gunung dengan sejuknya udara yang membelai, tak semerdu kicauan burung-burung yang memadu cinta diatas ranting, tak sesyahdu gemercik air, tak seharum bunga ditaman, dan tak sebahagia sang kumbang diatas kembang. Menjadi seorang aktivis dakwah adalah sebuah pendakian yang panjang dan sangat melelahkan, onak berduri, terjalnya pendakian, kerikil-kerikil tajam yang terkadang melukai kaki sang pendaki , adalah warna perjuangan dakwah ini.

Sebagai seorang aktivis dakwah sekolah, kita dituntut untuk proporsional dalam segala hal yang terkait dengan sekolah dan dakwah. Seluruh tanggungjawab kita sebagai seorang siswa dan seorang anggota keluarga juga sama sekali tidak boleh ada yang terabaikan. Sebab ini yang sering menjadi alasan dimana orang tua akan membatasi aktivitas kita sebagai seorang penggerak dakwah, dengan dalih harus konsen disekolah. Sikap ini di ambil bukan karena mereka tidak suka dengan peran kebaikan yang kita lakoni. Tapi bisa jadi, mereka belum memahami betapa penting apa yang hari ini kita lakukan sebagai sebuah proses pembelajaraan untuk mengasah kemampuan dan berlatih memikul tanggungjawab sebagai manusia seutuhnya. Yang semua itu tidak akan ditemukan dalam kurikulum sekolah. Sebab ini adalah sebuah pengalaman yang mempunyai dimensi berbeda dengannya, hanya mereka yang menapaki jalan ini yang akan memahami dan merasakan buah manis dari setiap proses pembelajaraan itu . Yang harus kita lakukan adalah memberi pemahaman kepada mereka dengan bijak dan arif. Kita harus menjadi cerminan dakwah ini dimana pun kita berada. Dakwah yang kita serukan harus bermula dari orang terdekat kita, yaitu ibu, ayah, adik atau kakak. Merekalah orang terdekat kita. Mereka adalah objek dakwah kita yang semestinya menjadi orang pertama yang terdakwahkan. Cara mendakwahi mereka tentu berbeda dengan ketika mendakwahi teman sejawat kita. Hal yang paling sederhana yang mesti kita lakukan adalah menjadi cerminan dakwah itu sendiri. Membatu tugas dan kerja mereka dirumah, memberi pelayanan atau pengabdian yang baik sesuai kemampuan kita dan berdasarkan tuntunan agama.

          Sebagai seorang aktivis dakwah dan juga siswa, kita harus berprestasi. Jika tidak, maka ini akan menjadi images buruk bagi dakwah, dimana orang akan melihat bahwa dakwah telah menjadi batu sandung bagi siswa untuk berprestasi sehingga menjadi aktivis dakwah disekolah bukanlah pilihan yang tepat. Sekali pun nilai atau angka diraport bukanlah sebuah jaminan bahwa ia sudah bisa dikatakan sukses dalam berprestasi, apa lagi dengan kebiasaan buruk sebagian siswa yang suka mencontek atau menerima bocoran dari oknum guru yang tidak bertanggungjawab, lebih membenarkan bahwa juara dikelas bukan jaminan  bahwa ia baik dan jujur serta laik disebut orang yang sukses dan berprestasi. Dan semua itu adalah tantangan bagi kita sebagai seorang penggerak dakwah. Dan tantangan adalah sesuatu yang mesti ditaklukkan bukan di hindari.

Menjadi aktivis dakwah sekolah adalah warna yang berbeda. Dimana secara pisikologi ia masih berada di masa peralihan antar usia anak-anak dan dewasa, gejolak emosi yang belum terkontrol, rasa ingin mencoba setiap hal baru entah itu baik atau pun buruk masih begitu kuat. Ingin hidup bebas seperti remaja pada umumnya. Namun kesadaran untuk  mengamalkan islam dengan baik dan benar menjadikannya berbeda dengan pelajar pada umumnya. Dari titik inilah kemudian tantangan itu terbentang jauh kedepan. Unjungnya tidak kelihatan oleh mata telanjang. Sebab ujung itu ada dipintu ‘firdaus’.

Bangsa ini merindukan pemuda dan pemudi yang mempunyai semangat ishlah, (reformasi), semangat perbaikan terhadapnya. Kita mengetahui segala persoalan bangsa ini begitu kompleks dan terkadang membingungkan, entah harus dimulai dari mana memperbaikinya. Namun kita menyadari bahwa segala sesuatu akan ada akhirnya, ada dimana kita sebagai generasi muda akan menggantikan mereka yang hari ini memimpin penuh dengan kajahilan. Dan disanalah tersedia ruang dan waktu bagi kita untuk menggantikan mereka kemudian mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran yang kita yakini berdasarkan pemahaman yang benar. Hari ini antum (generasi rabbani) harus memantaskan dan bersiap diri untuk menggatikan mereka. Kalau tidak, maka ini hanya akan menjadi sesuatu yang setiap waktu akan terus berulang dan berulang lagi. Dimana akan lahir generasi yang sama dan bisa jadi lebih buruk dari mereka. bahkan mungkin kita adalah bagian dari keburukkan itu sendiri.

Nafas baru bangsa dan daerah ini (Boltim)  adalah antum ikhwah! Antum adalah ruh baru (ruhul jadid) baginya. Karena dijiwa kalian ada semangat ishlah, semangat reformasi. Semangat reformasi ini lahir dari aqidah yang murni, yang tidak terkotori dengan syahwat duniawi.  

Ayo Lebih Baik!!!



luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment