Tuesday, March 8, 2016

Berdakwah di Tengah Masyarakat Awam (Bag. 1)

Oleh: Abu Maryam
Allah Swt.. telah mengutus nabi Muhammad Saw. kepada seluruh umat manusia. Mereka yang mendapatkan hidayah sebagai muslim, sejatinya adalah seorang da’I di jalan Allah Swt., di pundak mereka ada amanah dakwah, sebagai pewaris para nabi dan Rasul.
Oleh karena itu kita sebagai para da’i, sudah seharusnya berkhidmah untuk masyarakat, berada di tengah-tengah mereka. Karena mereka merupakan mad’u. Dengan merangkul mereka akan memperkuat barisan dakwah kita dan memudahkan tercapainya target-target dakwah baik yang bersifat materi maupun maknawi.
Para musuh-musuh Islam mengetahui ancaman dibalik terciptanya hubungan para da’i dengan masyarakat, mereka khawatir masyarakat yang netabonenya awam kelak justru mendukung perjuang Islam dan mengambil bagian dalam penyebaran dakwah. Oleh karena itulah dikampanyekan kesan negatif ditengah masyarakat tentang siapa itu da’i. Mereka menyebut para da’i sebagai teroris dan kumpulan dari orang-orang Islam radikal. Ini semua sengaja dilakukan untuk menggiring para da’i masuk dalam kelompok yang berbeda dengan umumnya umat Islam. Mereka berusaha sekuat tenaga memisahkan da’i dengan umat, sehingga kecemasan akan bangkitnya Islam tidak terjadi.
Berprasangka Baiklah
Para da’i harus siap berdakwah dalam kondisi apapun, baik dalam lapang, sempit ataupun tertekan. Masyarakat yang awam tentang Islam kadang bersikap memojokkan kita, sampai kita tertekan dan memberi kesan negatif kepada masyarakat, sehingga kita lupa bahwa mereka adalah bagian dari obyek dakwah. Sebagaian dari para da’i bahkan menyebut masyarakatnya itu dengan istilah “sampah”, penjahat, dan sebutan buruk lainnya, yang pada hakikatnya justru merugikan dakwah dan para da’i itu sendiri. Sikap seperti ini justru memberi keuntungan bagi musuh-musuh Islam, menjadi pembenaran kesan negatif yang selama ini mereka sebarkan.
Dalam menghadapi hal seperti ini para da’i dituntut kedewasaannya, memahami bahwa mereka juga sama dengan masyarakat, bukan manusia super yang lahir kemudian besar dan menjadi da’i. Tapi ada proses yang memang harus dilalui. Dahulu setiap da’i merupakan bagian dari masyarakat awam, atau bahkan dari kita ada yang dulunya melihat sosok da’i itu dengan pandangan sempit. Lalu kemudian hidayah datang, pemahaman tentang keislaman menjadi bertambah, memahami urgensi berdakwah, tawadhu, dan tidak merasa menjadi orang paling mulia diantara manusia.
Ingatlah selalu firman Allah Swt.. :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah Keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. An-Nissa : 94)
Dakwah Kepada Allah Swt. Mengajak Untuk Memperbaiki Manusia
Saat ini kita berada dalam kondisi persaingan ideologi dan beragamnya kampanye atas nama kelompok, dimana masing-masing menyerukan perbaikan untuk masyarakat, namun pada hakikatnya dakwah kepada Allah-lah yang satu-satunya bekerja untuk perbaikan kepada masyarakat, dakwah tidak berorientasi menjadikan masyarakat sebagai sapi perah untuk kepentingan pribadi, golongan atau partai. Yang kita dakwahi adalah menyeru umat manusian untuk beriman kepada Allah Swt., menjadikan Islam sebagai penduan hidup, berdakwah tanpa melihat suku, bahasa dan bangsa, terhormat dihadapan manusia dan tinggi derajatnya di sisi Allah Swt..
Sebagai da’i kita harus mengisi hati dengan penuh kecintaan terhadap manusia, hingga rasa cinta itu menghujam kedalam jiwa, sampai masyarakat benar-benar menyadari bahwa para da’i itu tulus cintanya kepada mereka. Kita harus menjaga masyarakat dengan penuh keikhlasan, melayani kebutuhan mereka. Bahkan terkadang, kita harus siap begadang demi memikirkan mereka, mencegah dari ancaman yang membahayakan aqidah mereka.
Dalam hal kecintaan ini Rasulullah Saw. mencontohkan, bagaimana ketika memasuki kota Makkah kemudian membiarkan mereka yang dulu mengusirnya dan menyiksa para sahabatnya, membunuhnya, bahkan mereka membunuh orang yang dicintai nabi, seperti paman Nabi, Hamzah bin Abdul Mutholib. Namun Rasulullah Saw. hanya mengatakan kepada mereka, “Pergilah , kalian semua bebas.”
Berangkat dari ini semua, para da’i jangan sampai membawa pengalaman pahitnya yang dulu, sehingga terbawa pada kehidupannya sekarang. Simpanlah ingatan buruk di masa lalu dan jangan kembali lagi dibuka, karena akan berefek terhadap sikapnya kedepan.
Umumnya manusia apabila diperlakukan dengan cara yang buruk maka ia akan membalasnya dengan keburukan serupa, hal itu dikarenakan mereka tumbuh dari masyarakat yang jauh dari nilai Islam, sehingga yang ada adalah rasa egois. Jauh dari akhlak yang mulia.
Dari sinilah para da’i memiliki kewajiban kepada mad’u-nya untuk menghadirkan contoh teladan. Karena boleh jadi ketika mereka melihat para da’i tersebut terbebas dari persepsi negatif yang terjadi dimasa lalu, mereka kemudian lebih mudah dan tertarik bergabung dalam gerbong dakwah. Wallahu A’lam Bishowab

Disarikan dari kitab “Qawaidu Ad-Da’wah ila Allah” karya Dr. Hamam Abdurrahim Sa’id, cetakan Darul Wafa’, Manshurah, Mesir.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment