Monday, March 7, 2016

Media dan Propaganda

Dalam konteks ghazwul fikri (perang pemikiran), informasi menjadi senjata yang paling penting. Seusai Perang Dunia (PD) II, berkobarlah Perang Dingin (The Cold War), yang – sesuai namanya – tidaklah ‘panas’ sebagaimana perang biasanya yang melibatkan senjata berapi, melainkan ‘dingin’, karena yang berada di garis terdepan adalah kekuatan intelijen. Tugas mereka adalah mengumpulkan informasi yang benar, dan tidak jarang juga mereka menyebarkan informasi yang salah untuk membuat bingung lawan-lawannya.
Pada PD II, propaganda telah memainkan peranan yang sangat penting. Untuk melemahkan moral para tentara Amerika Serikat, misalnya, pesawat-pesawat tempur NAZI menjatuhkan leaflet-leaflet yang berisikan gambar dan kata-kata yang mengingatkan para prajurit lawan tentang orang-orang yang mereka cintai yang masih berada di kampung halamannya masing-masing. Dengan cara demikian, Jerman berharap para prajurit itu kehilangan semangat tempur atau pikirannya menjadi tidak fokus karena senantiasa teringat tanah airnya sendiri. Penebaran propaganda ini dikenal dengan sebutan airborne leaflet propaganda (propaganda leaflet dari udara).
Pada tahun 1943, ketika PD II sudah mulai berbalik arah karena kekuatan Jerman mulai melemah, Inggris pun membalas dengan menebar leaflet propaganda ke wilayah Jerman. Dalam propaganda tersebut, tertulis kata-kata: Fortress Europa has no roof (benteng Europa tidaklah beratap). Leaflet ini agaknya ingin menjelaskan sebuah ironi, yaitu bahwa meski Jerman dianggap sebagai benteng yang kokoh oleh penduduknya, namun ia tidak memiliki atap. Sebagaimana Inggris dapat dengan mudah menebar leaflet di atas kepala mereka, Inggris pun – secara teoritis – dapat dengan mudah menjatuhkan bom ke kota-kota mereka. Itulah pesan yang sesungguhnya.
Propaganda semacam demikian memiliki banyak fungsi. Adakalanya, leaflet disebar untuk mengumumkan akan datangnya serangan. Selain untuk menciptakan kekacauan di kalangan masyarakat sipil, hal ini juga dapat mendorong mereka untuk meninggalkan wilayah, sehingga serangan militer yang akan digelar dapat dilakukan secara lebih efektif. Adakalanya, propaganda diberikan secara terang-terangan untuk mendorong lawan agar segera menyerah saja, demi menghindari korban jiwa yang sangat banyak. Di waktu lain, propaganda juga diberikan untuk mencitrakan diri, contohnya seperti yang dilakukan prajurit AS di Irak dengan menebarkan leaflet yang menjelaskan bahwa kedatangan mereka ke negeri itu adalah untuk ‘menegakkan demokrasi dan perdamaian’, dan dengan demikian, mereka berharap dapat menekan perlawanan rakyat serendah mungkin.
Di era informasi, pasca Perang Dingin, penggunaan informasi sebagai senjata semakin meluas. Ambillah contoh bagaimana kaum Zionis di seluruh dunia mengeksploitasi kisah Holocaust (pembantaian Yahudi oleh NAZI) demi mendapatkan simpati dunia dalam rangka mencaplok tanah Palestina. Penderitaan mereka yang digambarkan begitu luar biasa pada PD II mampu mendorong masyarakat dunia untuk berpikir bahwa mereka sudah selayaknya ‘diberi rumah’, dan rumah yang terbaik untuk mereka adalah rumah mereka dahulu, yaitu tanah Palestina.
Dengan demikian, paling tidak ada dua informasi penting yang mesti mereka eksploitasi.Pertama, tentang Holocaust itu sendiri. Kedua, tentang klaim bahwa tanah Palestina adalah sesungguhnya hak mereka.
Untuk mempertahankan klaim yang pertama, kaum Zionis mendapatkan dukungan penuh dari penegakan hukum, terutama di Eropa. Kasus Roger Garaudy, misalnya, dapat menjadi contoh. Sebagai filsuf dan penulis yang tadinya berhaluan Komunis, Garaudy memiliki reputasi akademis yang cukup terhormat di Perancis. Garaudy kemudian membuat Perancis begitu heboh dengan memeluk agama Islam, dan pada tahun 1996 ‘menampar’ dunia dengan mempublikasikan bukunya yang berjudul Les Mythes fondateurs de la politique israelienne(The Founding Myths of Modern Israel). Dalam buku itu, Garaudy secara terang-terangan menuduh bahwa Israel didirikan di atas ‘mitos’ Holocaust yang dibesar-besarkan dan dieksploitasi sedemikian rupa. Pengadilan Perancis kemudian melarang penyebaran buku itu semata-mata karena mengandung penyangkalan terhadap Holocaust, dan penulisnya didenda sebesar 240.000 Franks, juga dijatuhi hukuman kurungan penjara.
Norman Gary Finkelstein, seorang penulis dan dosen ilmu politik dari Amerika Serikat, juga menulis sebuah buku terkenal dengan judul The Holocaust Industry. Dalam bukunya, Finkelstein menulis bahwa “salah satu kekuatan militer terkuat di dunia, dengan catatan pelanggaran hak asasi manusia yang paling menakutkan, (dapat) mencitrakan dirinya sendiri sebagai korban.” Kata-kata Finkelstein tersebut adalah sindirannya kepada Israel yang seolah-olah ‘tak tersentuh oleh kritik’ hanya karena masa lalu kaum Yahudi yang menyedihkan di tangan NAZI, meskipun mereka terus-menerus melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Palestina. Ironi terbesar dari diri Finkelstein adalah bahwa dirinya sendiri adalah seorang Yahudi dan kedua orang tuanya adalah bagian dari kaum Yahudi yang selamat dari Holocaust di PD II.
Perihal klaim kedua, kekuatan Zionisme Internasional pun telah habis-habisan mengepung dunia dengan segala cara, termasuk dengan usaha menghilangkan segala bukti mengenai keberadaan bangsa Palestina di tanah airnya sejak dahulu. Akan tetapi, cara ini tidak selalu berhasil, karena ada saja bukti-bukti arkeologis yang ‘lolos’ dari penjagaan mereka. Pihak Zionis juga berusaha menghapus semua informasi yang beredar tentang sejarah Palestina sebelum kedatangan mereka di tanah itu.
Salah satu peristiwa terpenting pada dekade pertama di milenium ketiga, yaitu runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, juga tidak lepas dari perang informasi. Meski keruntuhan menara kembar itu bukan sekedar propaganda, namun propaganda yang menyusul kejadian itulah yang menjadi kunci dari banyak peristiwa di dunia Islam. Propaganda itu berbunyi: teroris telah menyerang AS, meruntuhkan WTC, dan teroris-teroris itu berasal dari negeri-negeri Islam. Secara efektif, masyarakat diarahkan untuk membenci Islam, bahkan umat Muslim pun banyak yang percaya bahwa para pelakunya adalah Muslim seperti mereka.
Pada kenyataannya, kasus yang kemudian dikenal sebagai ‘Peristiwa 9/11’ itu mengandung banyak misteri. Salah satu misteri yang paling menohok adalah: bagaimana menara WTC yang dibangun dengan konstruksi baja bisa runtuh vertikal ke bawah setelah ditabrak oleh sebuah pesawat? Bagi mereka yang mempelajari rekayasa pembangunan gedung-gedung berkonstruksi baja, peristiwa keruntuhan WTC yang disiarkan oleh stasiun televisi di seluruh dunia itu terlihat sangat aneh. Hanya ada satu penjelasan ilmiah yang memungkinkan hal semacam itu terjadi, yaitu peledakan berencana. Dengan kata lain, ada peledak-peledak lain yang telah ditempatkan secara strategis di kedua menara tersebut untuk memastikan arah keruntuhan yang tepat, ‘rapi’ dan tidak merusak daerah sekitarnya. Teknik peledakan semacam ini sangat umum digunakan untuk menyingkirkan bangunan-bangunan yang sudah tak terpakai dalam waktu singkat dengan risiko kerusakan lingkungan yang minim.
Berbagai keanehan lainnya juga mendapat sorotan publik, misalnya beberapa tersangka teroris yang ternyata tidak pernah menaiki pesawat itu dan malahan sehat wal afiat di rumahnya. Akan tetapi, seluruh media massa mainstream tetap dikerahkan untuk menyiarkan berita yang menjustifikasi isu terorisme ‘kaum Islamis’ tanpa memperhatikan berbagai kejanggalan di atas.
Efek dari penyebaran informasi yang keliru sangatlah luar biasa. Selain memberi legitimasi bagi negara-negara Barat (terutama AS) untuk menginvasi negeri-negeri Islam seperti Irak dan Afghanistan, informasi yang sama juga memberi legitimasi kepada para pemimpin negara-negara Islam di sekitar wilayah konflik untuk berdiam diri dan membiarkan AS ‘melakukan pekerjaannya dengan tenang’. Masyarakat Muslim dunia pun terbelah, karena sebagian tidak lagi merasakan simpati kepada saudara-saudaranya yang dicap teroris, sebab mereka terlanjur termakan propaganda musuh.
Betapa banyak manusia – sebagian di antaranya juga Muslim – yang masih meyakini bahwa Al-Ikhwan Al-Muslimun adalah gerakan radikal, dan pendirinya, Hasan al-Banna, adalah ‘raja teroris’. Padahal, ‘wajah radikal’ itu tidak pernah terlihat dalam karya-karya beliau, dan juga tidak tercermin dalam pribadi para kadernya. Sebaliknya, banyak gerakan yang sangat radikal sampai-sampai menganggap para pemimpin di negerinya sendiri sebagai thaghut lantaran tidak menerapkan syari’at Islam, namun ‘perhatian’ yang diberikan oleh Barat kepada mereka jauh lebih sedikit ketimbang yang didapatkan oleh Al-Ikhwan.
Hal ini dilakukan karena Al-Ikhwan dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar di dunia yang berasal dari rahim Islam. Ideologi Al-Ikhwan dapat mengejawantah dalam berbagai bentuk, mulai dari dakwah praktis, pendidikan, seni dan budaya, ormas, partai politik, bahkan juga klub-klub olah raga. Al-Ikhwan juga tidak menempuh cara-cara ekstrem dan radikal, juga tidak mengenal konfrontasi dengan sesama Muslim, apalagi dalam masalah-masalah ikhtilafyang sifatnya furu’iyyah. Dengan cara demikian, dakwah Al-Ikhwan dapat dengan mudah menarik simpati masyarakat Muslim dunia dan dengan bebas menyebar ke seluruh penjuru tanpa menghiraukan batas-batas geografi, meski khilafah belum lagi berdiri. Itulah sebabnya Al-Ikhwan dianggap sebagai ancaman yang nyata.
Meski demikian, Al-Ikhwan adalah contoh bagus bagaimana sebuah gerakan dakwah harus menghadapi serangan propaganda yang bertubi-tubi selama puluhan tahun lamanya. Cap teroris, dengan segala cara, terus disematkan padanya. Dengan cara demikian, masyarakat yang tidak kritis yang biasanya kurang terdidik akan terdorong untuk menelan informasi secara bulat-bulat. Sebab, mereka tidak menyadari bahwa dalam ghazwul fikri, informasi telah menggantikan peluru, meskipun keduanya sama-sama diarahkan kepada kepala mereka.
Puluhan tahun lamanya pemerintah sekuler di Mesir menindas Al-Ikhwan. Entah berapa puluh ribu orang yang sudah mencicipi penyiksaan di dalam penjara, dan entah berapa ribu yang sudah menjadi syuhada. Para ulama yang dikenal karena kelembutannya seperti Syaikh Yusuf al-Qaradhawi pun diperlakukan seperti musuh negara. Rejim berganti, namun kebijakan tidak berubah. Meski ditindas sedemikian rupa, Al-Ikhwan-lah yang dicap sebagai kelompok radikal. Lebih dari enam dasawarsa berlalu sebelum akhirnya salah seorang putra terbaik Al-Ikhwan, yaitu Dr. Muhammad Mursi, menempati kursi kepresidenan di Mesir. Sungguh sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah, dan perjalanan itu sesungguhnya belum berakhir.
Di Indonesia, sejumlah media massa seolah berfungsi sebagai ‘perpanjangan tangan’ dari kekuatan-kekuatan politik yang saling bersaing, bahkan sebagian di antaranya juga berfungsi sebagai kekuatan politik itu sendiri, sejajar dengan parpol-parpol yang resmi. Masyarakatlah yang dituntut untuk pandai-pandai memilah dari mana mereka mengambil informasi; dari sumber yang terpercaya, ataukah dari media yang bias dengan kepentingan politiknya sendiri?
Sebagaimana di negeri-negeri Islam lainnya, umat Muslim di Indonesia pun terus-menerus menjadi korban atas isu terorisme. Setiap ada gerakan radikal, Islam selalu dipersalahkan. Sebaliknya, ketika sejumlah prajurit TNI dibunuh dengan sadis di Papua, tak satu pun otoritas pemerintah atau media massa yang menggunakan kata “terorisme”.
Proyek propaganda telah berjalan lama di Indonesia. Isu radikalisme Islam sama sekali bukan barang baru, karena telah lama digunakan sejak jamannya Ali Moertopo dan Benny Moerdani. Isu-isu semacam itu cukup efektif untuk melemahkan kepercayaan umat Muslim terhadap agamanya sendiri. Pertanyaannya: apakah isu yang sama masih bisa digunakan di jaman sekarang?
Di negeri ini, media massa seolah menulis ceritanya sendiri, tanpa mempedulikan fakta di lapangan. Kita dapat menyaksikan bagaimana sebuah partai dakwah menjadi bulan-bulanan media belakangan ini. Ketika presiden partainya dinyatakan sebagai tersangka oleh lembaga antikorupsi, seorang wartawan dengan lancang menulis bahwa beliau tertangkap di sebuah kamar hotel bersama seorang wanita. Waktu berlalu, dan fakta yang sebenarnya sudah diketahui, akan tetapi berita itu tak pernah diralat, sedangkan masyarakat yang kurang kritis sampai sekarang masih saja mengulang-ulang berita pertama yang didengarnya dahulu.
Sejak bertahun-tahun yang lalu, media massa terus menulis propaganda tanpa merasa perlu mengecek kebenaran seputar partai dakwah ini. Sebelum Pemilu 2009, ramai beredar kabar bahwa partai ini ‘telah ditinggalkan oleh kader-kader setianya’, namun pada akhirnya hanya partai inilah yang selamat dari ‘tsunami Demokrat’. Beredar pula kabar bahwa partai ini terbelah menjadi ‘Faksi Keadilan’ dan ‘Faksi Kesejahteraan’, dan berbagai isu lainnya. Akan tetapi, partai dakwah ini tetap solid, tidak terpengaruh oleh media yang selalu mendahului peradilan. Setelah presidennya digiring ke rumah tahanan, obor kepemimpinan langsung berpindah tangan, semudah pelatih tim sepakbola mengganti pemainnya dalam pertandingan. Tidak ada kontroversi, tidak ada gejolak kader, tidak ada perebutan jabatan, apalagi aksi bakar KTA dan hengkang masal yang biasa terjadi di partai-partai lain.
Untuk memenangkan pertarungan di era informasi, gerakan Islam perlu memahami realita akan pentingnya informasi, dan memanfaatkan segala keunggulan yang dimilikinya dalam menguasai jalur informasi, terutama informasi yang beredar secara internal di antara kader-kadernya sendiri. Hanya dengan cara itulah kita bisa menghadapi gempuran media massamainstream dari segala arah. Pengalaman di Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya telah menunjukkan – sebagaimana yang juga telah ditekankan oleh seorang ustadz di negeri ini – bahwa adakalanya pertempuran tidak dimenangkan oleh orang yang paling banyak membunuh, melainkan oleh yang paling lama bertahan hidup.
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment