Sunday, March 6, 2016

MEMAHAMI QODHOYA ASASIYAH DALAM DAKWAH UNTUK MENJAGA KESOLIDAN INTERNAL

Jalan dakwah begitu menarik dan apik, liku-liku perjalanan dakwah membuat semangat tak pernah surut, walau banyak yang bilang iman itu naik turun, akan tetapi bisa dirasa bahwa jika sudah berjamaah iman itu bahkan naik terus. Jalan dakwah adalah jalan yang satu, jalan yang telah dilalui oleh para Nabi dan Rasul Allah.

Setiap dai wajib memahami berbagai Qodhoya Asasiyah (isu-isu mendasar) diseputar jalan dakwah, untuk menjaga keselamatannya di sepanjang perjalanan, dan agar ia sampai tujuan dengan selamat, selain itu memahami Qodhoya Asasiyah tentu sebagai alat untuk menjaga kesolidan tim dalam dakwah.

Sering dalam dakwah terjadi salah paham antar kader, kesenjangan antara qiyadah dan jundiyah, perbedaan pendapat bahkan perpecahan internal mungkin terjadi. Untuk menangani hal itu tentu ada kaidah-kaidah yang perlu diketahui seluruh kader dakwah agar dakwah mampu berjalan dengan stabil dan berkembang.

Berdakwah mungkin tidaklah mudah, tapi dengan berdakwah semuanya jadi indah. Perubahan-perubahan yang konsisten terjadi karena gerakan dakwah yang terus berkembang, bahkan perjalanan panjang tak terasa semakin terjal dan rumit, persaingan terhadap konsepsi barat semakin terlihat, oposisi sudah berani memperlihatkan taringnya, antek-antek yahudi pun ikut bersamanya seperti jaringan islam liberal, aliran-aliran islam sesat, dan aliran syiah pun berkembang di Negara tercinta ini. Sungguh diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang jiddiyah (baca : sungguh-sungguh) untuk menghadapi tantangan ini. Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa ada perpecahan di tubuh internal gerakan dakwah, mungkin karena jumlah kader semakin bertambah diiringi dengan pemikiran dan paham yang semakin heterogen dalam tubuh dakwah ini. Tentu bukan perkara mudah dan gampang untuk mengatasinya bukan pula perkara yang teramat sulit sehingga enggan menghadapinya. Tidak bisa menafikkan bahwa peselisihan dalam dakwah ini terjadi akan tetapi bagaimana dengan perselisihan, perbedaan pendapat itu menjadi warna layaknya pelangi, semakin banyak warna semakin indah. Untuk menumbuhkan sikap dan paradigma yang positif dalam masalah ini adalah dengan cara membangun soliditas tim atau kesolidan internal.

Kesolidan Internal dalam gerakan dakwah perlu dibangun sejak dini, sejak para kader memahami arti penting dakwah untuk kemaslahatan umat. Semakin banyak kader tentu semakin banyak juga perbedaan cara pandang dan pemahamam. Bahkan Ust. Anis Matta membangun kesolidan internal ketika dakwah ini sedang dalam kondisi terpuruk, terkena badai, tertimpa tangga bahkan orang lain mengira kita akan runtuh, namun sebaliknya dengan adanya konflik (sudah sama-sama kita tahu, baca kasus impor daging) beliau berusaha membangun kesolidan tim, mengokohkan akar-akar penopang dakwah, merapatkan barisan-barisan dakwah yang tadinya merasa resah. Konsolidasi dan agenda-agenda internal pun dibangun demi keselamatan dan kesolidan internal. Ibarat mobil, soliditas tim bisa dianalogikan sebagai sebuah mesin pada mobil.walaupun bensin full akan tetapi mesinnya rusak maka mobil pun tidak akan bisa berjalan. Dengan kerja keras dan optimism, Dakwah mulai bangkit kembali dan InsyaAllah banyak meraih kemenangan di tahun 2014 ini.

Kesolidan internal mungkin sudah sering didengar, kalau dalam bahasa kerennya ukhwah islamiyah. Untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah atau kesolidan internal perlu dilandasi dengan berbagai pemahaman terkait Qodhoya Asiasyah atau isu-isu mendasar dalam dakwah.
Penting bagi seorang kader dakwah memahami dan mengerti akan isu-isu mendasar dalam dakwah agar tidak mudah terpengaruh isu-isu miring yang kadang menjatuhkan gerakan dakwah kita .

Ar-Ruyatu Al Wadihah ( Pandangan Yang Jelas )
Pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang daiyah adalah pandangan yang jelas terhadap jalan dakwah, mengenal petunjuk-petunjuknya serta seluruh yang berkait dengannya. Hal ini membuat ia memiliki kejelasan jalan sejak langkah pertama. Sebaliknya, ketidakjelasan pandangan akan menjadikan ragu terhadap keselamatan perjalanannya. Bahkan akan menyebabkan ia dilanda kegoncangan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan dan takut meneruskan perjalanan dakwah.

Ada beberapa manfaat yang akan didapatkan ketika dai memiliki pandangan yang jelas terhadap dakwah :
1. Memahami dan memperjelas bahwa beramal dalam satu jamaah memiliki syarat, janji dan komitmen.

2. Menanamkan kepercayaan dan kemantapan ketika berhadapan dengan tribulasi dawah

3. Memperjelas bahwa bersama rintangan dan ujian terdapat liku-liku perjalanan yang rawan sehingga menimbulkan kewaspadaan dan tidak gegabah mengambil sebuah keputusan.

4. Melindungi dari penyimpangan (ketergesa-gesaan dan fenomena orang yang lebih terikat pada pribadi dari pada jamaah) atau kelewat batas

5. Menjadikan yakin bahwa dakwah ini adalah pilihan yang pasti benar.
Dengan penjelasan beberapa manfaat dari pandangan yang jelas semua sangat berkaitan dengan bagaimana menjaga dan meningkatkan kesolidan internal.

Al-Istimroriyah ( Kesinambungan )
Banyak sekali lembaga dawah, jamaah, organisasi atau parpol tumbuh kuat tapi kemudian melemah dan bubar bahkan tidak sedikit yang bubar sebelum tumbuh menjadi kuat. Penyebabnya antara lain :
1. Tidak memiliki kemampuan untuk bertahan
2. Buruknya manajemen dan kesolidan internal
3. Tidak ada jaminan kesinambungan
4. Tidak memiliki kemampuan menghadapi tipu daya musuh
5. Lemah mengantisipasi berbagai konspirasi, sehingga mudah dipecah belah

Semua penyebabnya berkaitan erat dengan soliditas tim dan manajemen organisasi , adapun kesinambungan yang dimaksud di sini adalah bagaimana sebagai organisasi atau gerakan dakwah adalah tetap adanya orang yang memikul beban dawah, kemudian berusaha mewujudkan sasaran-sasarannya dan yang terpenting mewariskannya kepada orang lain.

Ada dua factor yang menyebabkan ketidaksinambungan dalam dakwah, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal
Melalaikan aspek tarbiyah dan ruhiyah; jika dawah dan jihad diibaratkan sebatang pohon, maka tarbiyah dan tazkiyah ruhiyah adalah humus dan pupuknya.

Perselisihan dan pertentangan di dalam Shaff atau barisan dakwah.Sebab-sebab perselisihan dan pertentangan antara lain perbedaan pemahaman dalam Islam, perbedaan uslub amal dan harakah antara interaksi dengan kondisi dan situasi yang ada, bersumber dari urusan pribadi bukan jamaah, serta taashub kepada seseorang, kota, daerah dan taashub jahiliyah lainnya.
Munculnya perasaan sia-sia di kalangan aktivis ketika dilanda kekalahan menghadapi pertarungan dengan musuh.

Faktor Eksternal:
Factor eksternal ini lebih dominan terhadap konspirasi musuh-musuh Islam, dengan cara:
Pendangkalan pengetahuan. Melemparkan tuduhan-tuduhan atau fitnah terhadap gerakan dakwah. Misalnya seperti di mesir gerakan dakwah di fitnah sebagai Terosis dan lain sebagainya.
Mendorong beberapa kelompok untuk menentang jamaah serta mengadu domba antar antar kader.

Semua sangat berkaitan erat bagaimana menghadapi ujian dan cobaan internal. Selain itu yang harus diingat bahwa kesinambungan dawah dalam tahap ujian dan cobaan merupakan kemenangan, sedang tidak adanya kesinambungan berarti suatu kekalahan.
An-Namwu wa Al Quwwah ( Pertumbuhan dan Kekuatan )
Ketika sudah memiliki pandangan yang jelas, kemudian membangun kesinambungan dalam dakwah tentu menjadi penting untuk menjaga pertumbuhannya dan memupuk kekuatannya.
Setelah terjaminnya kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan gerakan merupakan qadhiyah asasiyah.

Pertumbuhan dan perkembangan harus mencakup semua unsur, terbentuknya individu muslim, keluarga muslim dan masyarakat muslim terbentuknya basis yang kokoh dan ini dilakukan secara bertahap.

Suatu Kekeliruan dalam masalah pembentukan masyarakat Muslim bahwa seluruh anggotanya harus berkualitas seorang aktivis seharusnya cukup dengan mewujudkan sejumlah individu dan keluarga Muslim ideal yang cukup di dalam masyarakat tersebut, sedangkan selebihnya terdiri dari anggota-anggota masyarakat biasa yang shalih dan memberikan respon positif terhadap harakah Islammiyah dan sasarannya serta menerima hukum-hukum Allah (3:104).
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar, merakalah orang-orang yang beruntung (Ali Imron : 104)

Kesalahan lain juga sering memandang masyarakat Muslim di negeri-negeri Muslim bukan sebagai masyarakat Muslim, tapi masyarakat jahiliyah, dan ini merupakan sikap melemahkan gerakan dakwah.

Kemudian pertumbuhan dan perkembangan hendaknya dibarengi kekuatan agar tidak lemah dan lembek. Sarana paling utamanya adalah terbiyah islamiyah. Tentu didalam Hadits Rasulullah juga diterangkan bahwa Allah lebih mencintai mukmin yang kuat dari pada mukmin yang lemah. Tentu kuat disini bukan hanya kuat secara jasadiyah namun secara ruhiyah, ilmiyah, dan lain sebagainya. Maka dari itu kekuatan terbagi menjadi dua kategori yaitu kekuatan asasi (aqidah, wihdah, dan silah) dan kekuatan dharuri (ilmu, dana, publikasi, kepribadian, dll).
Al-Muhafatazhatu ala Al-Asholah ( Memelihara Orisinalitas )
Agar gerakan dakwah terjamin berada di jalan yang benar, maka ia harus menjaga dan memelihara orisinalitasnya. Sebab sekecil-kecilnya penyimpangan atau berkurangnya orisinalitas pasti akan melahirkan penyimpangan yang semakin besar sejalan dengan kesinambungan, pertumbuhan dan kekuatan yang terus semakin berkembang. Untuk melindungi pemahaman yang benar Syaid Imam Hasan Al Bana, menyampaikan beberapa hal yang harus dijaga orisinalitasnya, yaitu :
1. Asas aqidah, quwwah ( kekuatan) dan wihdah (persatuan).
2. Perhatian terhadap tarbiyah dan aspek ruhaniyah.
3. Beriltizam dengan jalan dakwah dan tahapan-tahapannya.
4. Penjagaan maksimal terhadap hubb (kecintaan) dan ukhuwwah (persaudaraan).
5. Penekanan terhadap aktifitas produktif dengan tenang dan tidak boleh terkalahkan oleh kepentingan pribadi.
6. Penjagaan dan penataaan wujud prinsip syura, sehingga dapat menelorkan hasil yang diharapkan.
7. Pemeliharaan terhadap sifat takamul (integral) dan Itidal (proporsional)
At-Takhtithu wa At-Tathwir ( Perencanaan dan Pengembangan )
Guna mencapai sasaran dan tujuan dakwah, Amal Islami harus berjalan dengan perencanaan yang teliti, tidak boleh asal-asalan, spontanitas atau reaksioner.

Adapun tugas utama dalam perencanaan dakwah yaitu sebagai berikut :
Sebelum menentukan rencana-rencana tentu kita perlu membagun terlebih dahulu sasaran, setelah menentukan sasaran, kemudian membagi sasaran dan menentukan skala prioritasnya
Menganalisis dan mengkaji kondisi yang berkembang, mengetahui segala potensi yang dimiliki dan potensi apa yang sudah terpenuhi dan yang harus terpenuhi. Menentukan langkah dan program dalam mewujudkan setiap sasaran, menentukan sarana, prasarana dan personil pelaksananya.

Menentukan materi yang cocok untuk menyempurnakan pelaksanaan, membuat asumsi berbagai kemungkinan yang terjadi yang mempengaruhi pelaksanaan program dan cara menghadapinya serta menentukan alternatif-alternatifnya.

Melakukan perombakan unsur terkait, apabila diperlukan. Menentukan pengawas yang terdiri dari kalangan pakar dan orang-orang yang berpengalaman dalam bidangnya untuk menjamin jalannya pelaksanaan berada dalam jalan yang benar tanpa ada penyimpangan.

Terdapat perbedaan besar antara perencanaan dawah dan perencanaan dalam lembaga-lembaga umum dan pemerintahan di dalam lapangan kehidupan materi. Perencanaan bidang materi lebih mudah dan dapat dikalkulasi melalui statistik, masa, perkiraan dan kemungkinan-kemungkinan. Sedang di lapangan dawah terus-menerus mengalami perubahan karena umumnya berinteraksi dengan jiwa dan hati manusia.

Memang Allah lah yang mampu membolak-balikan hati manusia namun jangan menjadi sebab kita berdiam, karena Allah juga mengingatkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika ia tak mau merubahnya.

Aqidah Islam, nilai-nilai, prinsip, akhlak, dan seluruh asas-asas yang id atasnya dibangun masyarakat utama bersifat tetap, tidak pernah mengalami perubahan. Sedangkan sarana dan prasarana, setiap saat harus dilakukan pengembangan dan pembaharuan untuk memenuhi tuntutan zaman. Inovasi dan kreatifitas diperlukan untuk meningkatkan syiar Islam. Bahkan Pengembangan dan pembaruan adalah dua hal yang sangat diperlukan. Rasulullah SAW selalu mendorong umatnya untuk meningkatkan kualitas, cara kerja dan sarana hidup serta memaksimalkan potensi alam yang ada untuk kemajuan dakwah.

Dan Ia telah menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya , sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (Al-Jatsiyah : 13).

Pengembangan, pembaruan dan pemanfaatan hal-hal yang baru harus terkendali oleh kaidah-kaidah yang bersumber pada nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap aktifis dakwah harus memahami setiap penemuan baru di dalam lapangan gerakannya dan memanfaatkannya untuk kelancaran jalannya program. Bahkan penemuan-penemuan baru harus diusahaklan untuk mengembangkan dan memperkuat gerakan. Secara singkat prinsip Islam itu tetap (seperti aqidah, ibadah, akhlaq, dll) sedangkan alat pencapaiannya dapat diperbarui terus disesuaikan dengan zaman atau era tersebut.

Jamu Kalimatil-Muslimin ( Kesatuan Pandangan Kaum Muslimin )
Kenyataan kaum muslim hari ini adalah terkotak-kotak dan berserakan dalam berbagai ormas, parpol dan gerakan-gerakan dakwah lainya.

Salah satu strategi musuh untuk memecah belah rakyat muslim adalah dengan mengekspor ideologi sesat dan membentuk partai politik berdasar ideologi tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kursi dalam pemerintahan dan agar ideologi tersebut dijadikan alternatif bagi syariat Islam. Oleh karena itu penting bagi kita untuk masuk kedalam sistem pemerintahan dan mencegah itu semua.

Cara pertama yang harus dilakukan untuk menyatukan ini semua adalah dengan berusaha menghidupkan Aqidah Islamiyah di dalam diri dan membangkitkan keimanan di dalam hati, lalu Kemudian memperkenalkan kaum muslimin akan hakikat agama Islam, kesyumulan, keagungan dan kebesaran Islam.

Untuk mencapai semua itu diperlukan kesabaran dan keteguhan dan menghindari penggunaan agitasi dan pemberontakan serta keyakinan yang mendalam bahwa Islam ini akan tegak dan bersatu kembali dalam Khilafah Islamiyah.

Berkaitan dengan banyaknya perkumpulan keagamaan, ormas, kemudian harokah dakwah, yang bekerja untuk mewujudkan satu atau beberapa aspek Islam, kita berusaha menyatukan pandangan dan barisan dengan berpadukan kaidah: kita bekerja sama dalam hal-hal yang sama-sama kita sepakati dan saling menghargai terhadap hal-hal yang di antara kita berbeda. Imam Hasan Albana berkata: Jadilah kalian bersama manusia laksana sebatang pohon. Ia dilempari dengan batu dan mengembalikannya dengan buah.

Imam Hasan Al bana mengatakan bahwa perbedaan masalah furu memang tidak dapat dihindarkan akan tetapi perbedaan ini tidak akan menjadi penghalang persatuan selama ada ikatan hati, cinta kasih dan saling taawun dalam kebenaran.

Al-Amalu Fi Majalid-Dawah ( Bekerja Dalam Lapangan Dawah )
Karakter dakwah Islam agar bagaimana kader dakwah lebih mementingkan segi amaliyah dari pada diayah (kampanye) dan propaganda.

Untuk memikul beban dan melaksanakan aktifitas dawah yang medannya semakin luas dan aktifitasnya semakin beragam serta membutuhkan waktu dan tenaga sangat besar, diperlukan kader yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk dakwah dan siap menghadapi berbagai kesulitan perjalanan dakwah.

Ingat bahwa seorang dai adalah orang yang hati dan pikirannya selalu sibuk dengan urusan dakwah.Setiap pribadi Muslim dituntut bekerja dalam lapangan dakwah, selain dituntut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain sebagai mata pencaharian untuk membiayai kehidupan keluarga dan rumah tangganya seorang da,i sangat dituntut untuk melakukan kerja-kerja dakwah yang berat.

Ada dua tipe manusia dalam kehidupan ini, yang pertama ia hidup sangat didominasi oleh amal dakwah dan yang kedua kehidupannya sangat didominasi oleh kerja-kerja hanya untuk kehidupan dunia semata. Tentu tipe pertamalah yang menjadi impian para kader dakwah.

Orang yang mencukupkan dirinya dengan pekerjaan pokoknya dan memberikan waktu dan tenaga lainya untuk dakwah, akan diberkahi Allah dalam harta, kesehatan, isteri dan anak-anaknya.
At-Taurits wa At-Tuhamu Al-Ajyal ( Pewarisan dan Regenerasi )Tentu regenerasi dan pewarisan terhadap dakwah ini tidak hanya dilakukan oleh kita para era sekarang, akan tetapi dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu para Rosul dan nabi. Sebagai contoh Rasulullah SAW mewarisi semua kekayaan Islam kepada para sahabat Nabi.

Yang menjadi lebih penting lagi adalah sasaran besar yang sudah dicanangkan pencapaiannya tidak cukup hanya melalui satu generasi, tetapi melalui beberapa generasi. Untuk mencapainya jelas memerlukan pentahapan dan beberapa fase. Karena itulah pewarisan dakwah adalah suatu proses yang sangat penting.

Pewarisan itu mencakup: tujuan, sasaran, wasilah(organisasi), seluruhnya dijaga orisinalitasnya secara utuh dari generasi ke generasi, tanpa perubahan atau penyimpangan.

Setelah Daulah Utsmaniyah runtuh muncul berbagai peperangan antar-sesama pemerintahan Islam. Dunia Islam mengalami perubahan berupa kemorosotan menuju kehancuran yang cepat. Allah SWT kemudian memunculkan para duat yang kemudian membentuk gerakan-gerakan Islam seperti Ikhwanul Muslimin ini. Dewasa ini muncul pemuda dan pemudi Muslim yang konsisten dengan Islam. dan semoga kita termasuk didalamnya. Aamiin.

Seharusnya dan sepatutnya setiap generasi mempersiapkan generasi berikutnya untuk memikul tanggung jawab dan menegakkan kewajiban dalam marhalahnya. Karena itu generasi baru harus dilatih tanggung jawab. Jika terjadi kekeliruan harus diperbaiki ketika itu juga. Kekeliruan dan kesalahan dalam latihan jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Langkah-langkahnya untuk melatih tanggung jawab kepada gerenrasi penerus antara lain adalah :
Melibatkan setiap anggota untuk turut memikirkan urusan dawah
-Dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan
-Dilatih membuat perencanaan, evaluasi dan memahami positif dan negatifnya
-Dilibatkan dalam manuver-manuver amal dan gerakan dakwah.

Selain itu perlu diperhatikan dalam regenerasi dan pewarisan :
Harus dihindari pemusatan tanggung jawab dan beban kepemimpinan hanya pada anggota tertentu untuk waktu yang lama, memperhatikan fiqh amal jamaI (syarat, kewajiban, uslub di dalam berinteraksi dan taawun serta mempertegas seluruh qadhiyah asasiyah sebelumnya), menekankan tsiqah (percaya kepada pemimpin), memahami benar sejarah perjalanan jamaah dan memperhatikan aspek ruhiyah dalam mengemban amanah.

Dari ketujuh aspek yang merupakan hasil pemikiran Syaid Hasan Al-Bana bahwa beban dakwah islam itu semakin berat dan terjal, maka perlu diiringi dengan sikap dan tindakan yang solutif dan inovatif. Kesolidan Internal menjadi sangat penting dalam menjaga kekokohan, perkembangan dan kemajuan gerakan dakwah. Kesolidan tak akan berhasil tanpa pengetahuan dan pemahaman dari setiap kader tentang maknawiyah dakwah.
Sumber; pemudasyam.tumblr.com/
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment