Thursday, May 19, 2016

Ketika Senja Datang Padaku


Ilustrasi (Flickr / Virtua TravelR)
Ilustrasi (Flickr / Virtua TravelR)
 Ketika senja datang padaku, aku terpaku lantaran pesonanya yang membius setiap inci penglihatanku. Langit akan merona dengan jingganya yang menawan. Mentari pun tertunduk memasrahkan dirinya tenggelam. Kemudian kumandang suara adzan akan bergema ke seluruh penjuru langit menembus awan-awan. Kulangkahkan kaki menuju rumah Tuhan. Kubasuh mukaku dengan air wudhu yang segar. Kuhadapkan wajahku pada kiblat. Kuserahkan jiwa dan ragaku pada-Nya. Ya Rahman, Ya Rahim, sesungguhnya hidup dan matiku hanya untuk-Mu.
***
“Faruq, kamu terlihat lelah sekali. Ayo sana segera mandi lalu makan malam. Eh, sudah shalat Maghrib?”
“Sudah Bunda. Iya Bund, Faruq mandi dulu ya”, jawabku kepada Bunda.
“Kamu tadi rapat Rohis lagi ya?”, Tanya Bunda mengiringi langkahku menuju kamar.
“Iya Bunda. Kebetulan Faruq diamanahkan menjadi sekretaris di Rohis sekolah. Rencananya kami akan mengadakan pembinaan terhadap siswa-siswa baru”, jawabku kepada Bunda.
“Faruq…”, ucap bunda pelan.
Aku menoleh kepada bunda. Kulihat raut wajahnya tampak khawatir meski tak dapat menutupi kharismanya. Wajah embunnya itulah yang membuatku selalu rindu pada Bunda.
“Iya Bunda…”, sahutku.
“Hmm ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan, tetapi mandilah engkau dahulu. Setelah makan, kita bicara di ruang tengah”.
“Baiklah Bunda”, ucapku lalu bergegas menuju kamar mandi.
***
“Bunda bukannya melarang kamu mengikuti Rohis, namun Bunda khawatir terhadap isu-isu yang sedang berkembang akhir-akhir ini”.
Kekhawatiran di wajah bunda semakin kentara. Ternyata inilah sumber kecemasan bunda yang membuatku bertanya-tanya sejak tadi. Pasti berita di media yang tidak bertanggung jawab itu, yang menyebutkan bahwa teroris muda direkrut pada program ekstrakurikuler di masjid sekolah-sekolah. Awalnya aku yakin bunda tidak akan terpengaruh terhadap isu murahan itu. Namun, beliau baru saja menyatakan kekhawatirannya padaku. Ah, namanya saja orang tua. Wajar jika ia merasa cemas seperti itu.
“Bunda…”, ucapku sambil menatap wajah bunda dengan penuh kasih sayang. Mataku berbicara pada matanya, meyakinkan bunda bahwa aku bisa menjaga diri dari hal-hal yang ia khawatirkan.
“Bunda tahu sendiri kan apa saja kegiatan Faruq di Rohis sekolah? Faruq selalu terbuka kepada Bunda. Dan semua kegiatan kami itu adalah kegiatan positif yang semata-mata bertujuan menjadikan para pelajar lebih memahami agamanya sendiri serta memiliki akhlak dan moral yang baik. Bun, sejak Faruq ikut Rohis di sekolah, Faruq merasa lebih dekat kepada Allah. Faruq memiliki saudara-saudara yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Bunda percaya kan?”, tuturku pada Bunda.
“Bunda percaya Nak! Bunda hanya takut kalau kamu menjadi target perekrutan teroris muda. Bunda tahu, kegiatan yang kamu lakukan adalah kegiatan positif, bahkan kamu turut mendakwahkan Islam kepada teman-temanmu. Namun Bunda berharap kamu tetap waspada jika ada pihak tertentu yang memanfaatkan semangat mudamu untuk berjuang dengan cara yang tidak benar”, tutur Bunda.
“Iya Bunda, Faruq paham maksud Bunda. Insya Allah, Faruq akan tetap berhati-hati”, aku berusaha meyakinkan bunda. Bunda tersenyum. Air mukanya terlihat lebih cerah sekarang.
***

Senja datang lagi padaku. Ia selalu datang untuk memamerkan keindahan kuasa Tuhan. Aku selalu terpesona setiap kali senja datang. Maka seiring napasku mendesahkan tasbih, aku terus melangkah menuju rumah ibadah. Ketika senja dibaluti adzan, maka itulah senja yang terindah.
“Apa? Kau ingin bergabung di Rohis, Bro?”, seru Adam ketika kuutarakan padanya bahwa aku hendak bergabung di Rohis sekolah.
“Iya Dam! Hal ini telah kupertimbangkan matang-matang. Ini tanpa pengaruh siapapun. Aku hanya ingin menjadi orang baik yang hidupnya berarti”
“Haha! Kusarankan, nikmatilah masa mudamu, Bro! Anak Rohis itu sungguh tidak gaul!”
“Aku tidak peduli, Dam. Aku ingin mencari diriku. Aku ingin dekat dengan Tuhanku. Yang penting bagiku bukan gaul atau tidak, tapi apakah yang aku lakukan sudah sesuai dengan tuntunan agama atau belum. Meski jadi orang paling gaul sedunia pun bila Allah mengutuki perbuatanku, apa artinya Dam? Apa artinya hidup di dunia jika yang kita lakukan tidak berdasarkan aturan-Nya”
“Wah, sudah jadi ustadz kau sekarang ya Bro! Haha! Teruskan Bro, teruskan perjuanganmu. Aku pun tetap dengan pendirianku, menjadi manusia bebas, tak ingin seorang pun mengaturku”
“Menjadi manusia bebas? Mmm, bahkan kau tidak memiliki kebebasan untuk mengatur engkau ingin bernapas tiap sejam sekali atau tiap tiga puluh menit sekali. Seluruh alam, termasuk manusia, telah memiliki aturan sendiri”, kataku pada Adam.
“Pemikiranmu itu yang membuatmu tidak bebas, Bro. Kasihan dirimu!”
Aku masih ingat saat Adam, sahabat dekatku, begitu kecewa padaku ketika kukatakan aku akan mengikuti Rohis. Akibatnya Adam tak mau lagi bersahabat denganku.
Awalnya aku sedikit kecewa, namun setelah mengikuti Rohis, aku mendapatkan teman-teman yang lebih baik. Aku merasa hidupku bertambah baik setelah bergabung dengan Rohis sekolah. Shalatku pun tak pernah bolong lagi. Aku bersyukur karena Allah telah memberikan hidayah padaku.
***
Kejadian itu tepat terjadi saat senja kembali menyapaku. Setelah selesai melaksanakan shalat Maghrib, aku pulang dengan mengendarai motor maticku. Udara senja yang agak dingin mengelus kulitku yang masih terbalut baju seragam. Lamat-lamat senja mulai ditelan oleh gelap. Senja yang indah pun perlahan hilang. Sungguh tak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya akan lenyap. Mentari, tak selamanya bersinar. Angin, tak selamanya berhembus. Manusia, tak selamanya hidup di dunia. Begitu juga dengan senja, ia tak selamanya bertahta di mayapada. Bila saatnya tiba, mereka akan lenyap. Lenyap atas perintah Rabb-nya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/01/04/26277/ketika-senja-datang-padaku/#ixzz498xynTBw 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment