Saturday, February 4, 2017

“Semua Karena CINTA”

DAKWAH ADALAH CINTA, Begitulah taujih ustadz Rahmat Abdullah yang di sebut sebagai Syeikh harokah abad 21. Cinta memang berbeda dengan segalanya, tak hanya membuat pelakunya merasakan kenikmatan yang tak sanggup di terjemahkan dengan untaian kata, tak mampu dilukiskan dengan bait-bait syair puisi, dan tak mampu di nyanyikan lewat melodi cinta sekalipun. Sebab cinta adalah rasa dimana seseorang akan mampu melakukan segala hal demi kebahagiaan yang di cintainya.

Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Muhammad dan para sahabatnya, cinta ini membuat mereka mampu berbagi dalam keadaan suka mau pun duka, cinta ini membuat mereka tak pernah tidur nyenyak dan makan kenyang karena umat yang mereka cintai.

Kecintaan kepada islam membuat mereka mampu menempuh perjalanan jauh ke Afrika (Habasyi) untuk menyelamatkan islam. Karena cintalah mereka siap berdiri tegak di padang badar untuk memenangkan pertarungan. Sekalipun pertarungan tidak berimbang, 313 pasukan muslim harus mengalahkan 1000 pasukan kafir. Dan karena kekuatan cintalah jumlah sedikit itu pun mampu memenangkan pertempuran.

Mungkin cinta inilah yang membuat Sumayyah binti Khayyat rela menjadi wanita pertama yang menjadi martir kejayaan islam. Cinta inilah yang membuat Bilal bin Rabah kuat di tindih batu di gurun sahara, dan dibawa terik panasnya mata hari. Cinta inilah yang membuat Khalid mampu memenangkan setiap pertempuran yang di pimpinnya.

Karena cinta ini pula dua sahabat ini berdoa Dalam perang Uhud, Abdullah bin Jahsy ra. berkata kepada Sa'ad bin Abi Waqash ra., "Hai Sa'ad, mari kita berdo'a bersama." Maksudnya, setiap orang mendo'akan keinginannya, lalu diamini oleh temannya. Do'a seperti ini lebih cepat dikabulkan. Kedua sahabat tadi pergi ke suatu sudut dan berdo'a. Yang berdoa pertama kali adalah Sa'ad ra.. "Ya Allah, jika esok kami bertempur, maka hadapkanlah kepadaku musuh yang berani. Yang menyerang saya dengan hebat, lalu saya melawannya dengan hebat pula. Lalu karuniakanlah kepadaku kemenangan, dan membunuh mereka di jalan-Mu, dan karuniakanlah kepada kami harta rampasan." Abdullah ra. pun mengamini do'a sahabatnya. Kemudian, giliran Abdullah bin Jahsy ra. berdo'a, "Ya Allah, jika esok kami bertempur, maka hadapkanlah kepadaku musuh yang kuat, dan beranikanlah saya untuk melawannya. Lalu ya Allah, syahidkanlah saya dalam keadaan terpotong hidung dan telinga saya, sehingga pada hari Kiamat nanti, ketika di hadapan Rasulullah saw., Engkau akan bertanya, "Hai Abdullah, mengapa hidung dan telingamu terpotong?" maka saya akan menjawab, "Ya Allah, hidung dan telinga saya telah terpotong untuk berjuang di jalan-Mu dan di jalan Rasul-Mu." Dan, Engkau akan berkata,"Benar semuanya telah terpotong di jalan-Ku." Sa'ad ra. pun berkata , "Amin." Esoknya, terjadilah pertempuran sengit. Dan do'a keduanya telah dikabulkan Allah swt., persis seperti yang mereka doakan.

Sa'ad ra. bercerita, "Do'a Abdullah bin Jahsy lebih baik daripada do'a saya. Saya melihat telinga dan hidungnya telah terpotong-potong dan pedangnya pun telah patah dalam perang Uhud itu. Kemudian Nabi saw. memberinya sebatang ranting pohon. Setelah diterima, ranting itu langsung menjadi pedang. Pedang itu langsung digunakan berperang. Pedang itu masih ada selama beberapa masa, kemudian dijual seharga 200 dinar." (Al-Ishabah).

Ikhwah fillah
Dan cinta yang sama itulah yang membuat kita berada di barisan dakwah ini. Cinta itu membuat kita saling menjaga, menasehati, dan mengingatkan jika ada yang terlanjur futur. Cinta itulah yang membuat kita saling mendo’akan sekalipun mungkinnya yang di do’akan tak pernah tahu namanya kita sebut dalam setiap untaian doa yang di panjatkan. Cinta itulah yang membuat kita selalu mudah memaafkan yang terlanjur berbuat salah. Cinta itulah yang memuat kita tak bisa diam jika di fitnah. Cinta itulah yang membuat kita cemburu tatkala mereka di mabuk cinta yang semu. Dan cinta itulah yang membuat kita tetap tegak berada disini! Bersama dakwah.


Karena cinta itulah yang membuat kita tidak mengenal lelah. Seharian kita disekolah dan tempat kerja, malam harinya kita sibuk dengan PR sekolah dan pekerjaan rumah lainnya. Namun semua itu tidak pernah menjadi alasan bagi kita untuk absen dalam setiap momen perjuangan. Panasnya matahari, dinginnya hujan, pekatnya malam, bahkan bahaya yang kapan saja  ada tak pernah membuat kita gentar untuk terus melangkah menapaki langkah-langkah kita  menuju kemenangan dakwah ini.

Semuanya karena rasa cinta. Goresan luka, rasa lapar, di marahi orang tua, lupa di apresiasi kerjanya, ditegur Qiyadah, adalah “cemilan” kita dalam dakwah ini. Namun semua kita lewati dan nikmati. Semua karena cinta. Cinta adalah energy yang mampu membuat logika tak berdaya memahaminya. Cinta adalah kekuatan dahsyat yang di anugerahkan oleh Allah untuk di manifestasi kan dalam bentuk amal ibadah. Pencinta sejati adalah mereka yang menghargai cinta itu dengan memuliakan yang dicintainya. Mereka yang mencintai islam akan senantiasa memuliakan islam dengan mengamalkan setiap ajarannya. Menjadikan islam sebagai satu-satunya tolak ukur dalam bergaul dan berfikir. Pencinta sejati rela berkorban demi kemuliaan yang dicintainya. Muslim sejati akan senantiasa rela mengorbankan jiwa dan hartanya demi kejayaan islam.

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Q.S. At-Tawbah):41”


Ikhwah fillah
Akankah engkau mengukir cerita cintamu dalam medan dakwah ini? Kelak nanti generasi sesudahmu akan bercerita tentang cintamu kepada binaan mereka. dan kelak Allah akan menilai cerita cintamu itu. semoga kau temukan cerita cintamu dalam lembaran cerita para mujahid dakwah di Jannah nanti.
Sofyan A. M
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment