Sunday, July 23, 2017

Empat Pilar Kebangkitan Dakwah

Bismillahirrahmannirrahim

Alhamdulillah Asholatuwassamu ‘Ala Mummadin SAW.
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang mengajak (manusia) kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kebaikan dan mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” (Q.s. Ali Imran: 110).

Ikhwah fillah al-hamdulillah kita sudah selesai melewati beberapa bagian dari tahapan pendewasaan kita dalam berjamaah (berorganisasi). Ini adalah awal yang baik bagi kita. Dibulan syawal ini, hadir sosok yang baru yang kemudian kita angkat menjadi pemimpin baru kita. Semoga ini pertanda peningkatan bagi kita dalam berjamaah, sebagaimana arti dari syawal adalah peningkatan. Semoga kita semakin lebih baik pasca pergantian kepemimpinan ini.
Dengan pengalaman dan kedewasaan ketua baru kita,  saya sangat optimis, bahwa kita mampu melakukan percepatan dalam menuntaskan target-target dakwah kita setahun kedepan. Tentu saat ini masih terjadi adaptasi antara ketua dan kader dan ini juga saya yakin membutuhkan waktu untuk sama-sama menyesuaikan diri. Saya juga yakin dengan pengalaman kita, serta budaya berorganisasi kita yang penuh dengan ukhuwah, semua itu tidak akan jadi kendala untuk melakukakn percepatan guna mencapai target-terget yang telah kita sepakati bersama. Dan target ini kita ilustrasikan sebagai sebuah bangunan besar. Al-islamu kalbunyan.
Ikhwah fillah, untuk membangun sebuah bangunan yang besar itu dibutuhkan pondasi yang kuat, dan empat pilar ini adalah empat sisi bangian dari asas bangunan dakwah yang kita bawa. hendaklah setiap kader memiliki empat asas ini.
1.      Niat yang baik
Dalam ajaran agama yang kita yakini factor niat menjadi salah satu hal terpenting untuk sahnya suatu ibadah.  Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Setiap kader harus mereview kembali niatnya. Jangan sampai ditengah perjalanannya telah terjadi disorientasi, hilangnya orisinilitas niat dalam berdakwah akan membuat organisasi dirundung masalah yang tidak berkesudahan. Sebab telah keluar dari tujuan suci bersama. Kita harus senantiasa menjaga niat kita agar setiap langkah usaha kita untuk menegakkan islam dalam tatanan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, tidak terkotori dan menjadi nilai pahala dimata Allah.

Nait yang baik juga akan membuat kita bersemangat untuk menuntaskan amanah dakwah. Sebab dengan bekal niat yang tulus akan membuat kita tidak peduli akan cacian dan pujian orang atas kerja dakwah kita. Karena yang ia harap adalah pujian Allah Azza wajallah.

Orang yang mempunyai kekuatan niat yang tulus, pujian tidak akan membuatnya sombong dan merasa paling berpengaru serta merasa diri paling berjasa dalam medan dakwah. Dan demikian juga ketulusan hati tidak akan membuat cacian menjadikannya lemah dan berputus asa untuk menunaikan manaha dakwah. Demikanlah kekuatan niat yang tulus.

Setiap kader harus senantiasa menjaga dan memastikan niatnya tetap bersi dari kotoran-kotoan materi. Ketika hati kita mulai mengalami goncangan dan godaan syahwat dunia, maka kembalikan ia pada relnya. Kembalikan ia pada maqomnya. Yaitu Nawaitu Lillah. Sebab sesuatu itu tidak akan nyaman kecuali ia berada pada maqom (Tempat) yang semestinya.
Dwi Budianto dalam bukunya berjudul Prophetic Learning, menceritakan kisah dialog Imam Malik dan muridnya, “Wahai Imam, banyak sekali orang mengarang kitab dengan nama al-Muwatha’seperti milik Anda. Bagaimana ini?”kata muridnya. Sorot matanya tajam. Ia geram, tetapi dicobanya untuk ditahan.
“Iya, benar. Saya mengetahuinya. Hanya kitab al-Muwatha’ yang ditulis dengan keikhlasan saja yang akan bertahan. Sementara itu, yakinlah, sisanya akan hilang,”jawaban sang Imam dengan sangat sederhana tetapi terasa menghujam dalam.
Keikhlasan akan membuat karyanya akan bertahan di jagad raya ini. Demikanlah yang disadari oleh imam malik.

Kekuatan keikhlasan ini harus menjadi modal utama dalam setiap gerak dakwah kita. Baik secara individu maupun berjamaah. Dakwah yang disampaikan dengan ikhlas akan berbekas dihati para mad’u dan ini akan membuat jamaah itu akan bertahan dihantam badai ujian. Kita menyaksikan batapa kuatnya goncangan yang menimpa ikhwanul muslimin. Para tokohnya di penjara, ditembak, bahkan ada yang digantung seperti Sayid Qutub, bahkan yang terakhir ribuan kadernya syahid dibredel tentara dictator yang tidak lain adalah mantan Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fatah al-Sisi pada 3 Juli 2013 lalu mengumumkan pelengseran presiden, dan penangguhan konstitusi. Salah satu media online Kompas.com - 26/12/2013 menulis judul, Jatuh Bangun Ikhwanul Muslim, menuliskan dalam peristiwa jatuhnya Mursi sebagai kepala Negara mesir juga dilanjutkan dengan pembubaran ikhwan membuat jatuh korban yang lebih dari 1.000 jiwa. Namun apakah dengan berjatuhan korban lantas membuat mereka hangus ditelan kekejaman? Tidak sampai saat ini mereka lebih eksis dan terus berdakwah dimanapun mereka berada.
Begitulah kekuatan ikhlas menjadi penentu keberlangsungkan perjalanan dakwah.

2.     Semangat berkorban
Cita-cita yang mulia tidak akan terwujud manakala setiap pengembannya  pemilik mental pecundang. Sejarah hanya mencatat mereka yang mempunyai semangat juang yang tingi serta memiliki jiwa kesatria. Nama mereka di puja dan puji, perjuangan mereka menginspirasi setiap orang yang membaca dan mendengarkan kisah hidup yang heroic itu.

Semangat berkorban inilah yang membuat islam mampu memimpin dunia berabad-abad lamanya. Jiwa-jiwa pejuang ini yang dirindu oleh bangsa saat ini. Dan diruang (penorganisasi) ini kita bermimpi terlahir generasi islam yang mempunyai semangat juang dan pengorbanan yang tinggi. Tidak ada tempat yang layak bagi jiwa mujahid (berjiwa  rela berkorban) kecuali kemuliaan dunia akherat. Di dunia namanya disanjung, dihormati manusia, dan menjadi inspirasi banyak orang. Sedang di akherat maqom mahmuda (tempat mulia) yaitu surga yang Allah janjikan baginya.
Cinta dunia dan takut mati adalah kebalikannya. Sebagaimana yang kita saksikan saat ini betapa miskinnya kita mendapatkan orang-orang yang rela berkorban untuk kepentingan bersama. Yang adalah adalah mereka yang cenderung mencari zona aman dan tak mau mengambil resiko. Sejatihnya yang demikian ini pertanda kemunduran suatu bangsa. Sebab tidak ada yang namanya suatu kemajuan keculai anak bangsanya adalah mereka yang rela mengobankan kepentingan pribadi demi kepentingan umum.

3.     Sabar
Kenyataannya dalam segala hal dibutuhkan kesabaran atau ketahanan untuk tetap berada pada apa yang diimpikan. Tidak terkecuali dalam dakwah. Justru kerena ini adalah rink pertaruangan antara hak dan kebatilan maka disini dibutuhkan ketahannan atau kesabaran yang berlapis bajah. Bahkan Al-quran menyebutkan kepemimpinan itu diberikan kepada mereka yang senantiasa sabar.
”Dan Kami jadikan pemimpin-pemimpin di antara kamu yang memberi petunjuk dengan perintah kami, yaitu ketika mereka bersabar. (As-Sajadah: 24)
 Berkacalah kepada kesabaran keluarga amar bin yaser. Syahid dan menjadi martir kejayaan islam.

4.     Ukhuwah
Persaudaraan sangatlah menjadi hal terpenting untuk mencapai tujuan bersama. Ingatkah kita ketika Abu Bakr memerdekakan Bilal Bin Raba? semua itu dilakukan semata-mata karena semangat persaudaraan yang terpatri dalam jiwa kaum muslimin.

Kekuatan persaudaraan itu adalah kekuatan aqidah. Atas dasar persamaan aqidah ini tak heran kaum muslimin rela mengorbankan harta dan jiwa mereaka untuk saudaranya.

Mengutip apa yang di sampaikan oleh ustadz Cahyadi Takawiran dalam bukunya berjudul Tegar dijalan Dakwah. Menyebutkan, “Ukhuwah adalah sebuah kenyataan naluriyah. Setiap manusia secara alami memerlukannya. Bagi setiap muslim, batas ukhuwah bukanlah etnis atau geografis, akan tetapi batas ukhuwah adalah wilayah aqidah.”
Masih dalam buku yang sama beliau menggambarkan keteladanan Ukhuwah yang diperankan oleh para generasi awal dengan memberikan penegasan akan sikap ukhuwah.

Ukhuwah bukanlah utopia, ia adalah realitas bagi setiap nilai dan tingkat iman. Muhajirin dan Anshar dimasa Rasulullah saw. Adalah sebuah fakta sejarah yang menjadi cermin bagi setiap muslim. Pertemuan mereka, saat Muhajirin datang ke Makah, cukuplah bagi mereka untuk bisa bersaudara dalam arti yang sebenarnya. Ukhuwah yang hakiki bukan lagi memperbincangkan masalah-masalah sepele tentang perbedaan di antara mereka, pertemuan itu bagai sebuah reuni, setelah bersaudara dalam waktu yang lama. Padahal kenyataan menunjukkan, di antara mereka belum saling mengenal.”

Ukhuwah itulah yang membuat mereka mempunya semangat yang sama demi mewujudkan cita-cita bersama.
Dengan Empat Poin ini saya berkeyanan kita akan mampu menjadi organisasi yang diperhitungkan bukan karena nama-nama tokonya melainkan peran dan kinerjanya bersama. Kita ingin membesarkan jamaah ini bukan membesarkan individu kita. Kita ingin berkarya demi agama dan bangsa yang dimana  kita dilahirkan dan dibesarkan. Kita ingin memberi sumbangsi dan kontribusi terbaik kita untuk kemajuan bangsa ini. Tentu harapannya semua yang kita laukan itu tidak semata bernilai pujian yang semu namun hakiki. Yang saya maksud dengan pujian hakiki adalah pujian yang menghatarkan kita menjadi ibadurahman. Jangan sekali-kali ada di antara kita yang berfikir bahwa kerja-kerja kita dalam memajukan bangsa dalah suatu hal yang sia-sia atau lepas dari kerja dakwah. Itu keliru. Sebab konsep rahmatan lil’alamin tidak mengenal pemisahan ruang agama dan negara. Konsep dakwah yang konvrehensif dan integral itu adalah menjadikan aktifitas dunia sabagai sarana kebahagian akhirat. Oleh karenanya kita sebagai muslim harus bisa memastikan apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang bermanfaat untuk kepentingan umum sehingga kita pantas mendapat ridho dari Allah. SWT. Bukankah agama menyebutkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang melakukan kebaikan?
  Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s.Ali ‘Imran: 148).
Jika yang demikian itu adalah empat hal asasi yang harus melekat kepada invidu kader. Maka, ada tiga aspek yang harus dilakukan oleh lembaga untuk pertumbuhan dakwah.
Mengutip apa yang ditulis oleh ustadz cahyadi dalam bukunya berjudul Menyongsong Mihwar Daulah, dibutuhkan tiga taspek pertumbuhan dalam gerakan dakwah. Agar bisa menunaikan misi besar kekhilafahan dimuka bumi.
1.     Pertumbuhan Kuantitas
Pertumbuhan kuantitas ialah bertambahnya jumlah aktivis gerakan islam dengan berbagai potensi yang dimiliki.
Cara yang bia dicapai untuk pertumbuhan kuantitas ini adalah dengan melakukan dakwah, baik dakwah fardiyyah mau pun dakwah jamahiriyyah. Dakwah fardiyyah dilakukan dengan pendekatan individual kepada mad’u, sedang dakwah jamahiriyah dilakukan secara missal melibatkan jumlah mad’u yang banyak. Kedua jenis dakwah  ini digunakan sebagai pintu untuk mengajak mereka menuju proses keberislaman yang lebih baik.

2.     Pertumbuhan kualitas
Pertumbuhan kualitas adalah pertumbuhan personal maupun structural gerakan dakwah. Dalam skala personal, hendaknya setiap aktivis gerakan dakwah senantiasa mengupayakan peningkatan berbagai segi kualitas pribadinya; seperti pertumbuhan kulaitas spiritual, kualitas moral, kualitas intelektual, dan kualitas amal.

          Sedangkan dalam skala structural, diharapkan adanya peningkatan soliditas struktur gerakan dan kualitas kinerja organisatoris. Pertumbuhan kualitas harus terus-menerus mendapat porsi perhatian, sebagai upaya “menyaring”, setelah pekerjaan sebelumnya adalah “menjaring” dengan memperhatikan pertumbuhan kuantitas. Keduannya harus berjalan secara singkron dan simultan, sebab tak banyak yang bisa dilakukan oleh gerakan dakwah apabila pendukungnya hanya sedikit. Namun gerakan dakwah juga bisa hancur meskipun pendukungnya banyak, tetapi tidak berkualitas.

3.     Pertumbuhan Kapasitas
Pertumbuhan kapsitas adalah pertumbuhan kemampuan gerakan dakwah untuk menguasai basis social dimasyarakat. Basisi social ini harus dibentuk dan dikuasai, karena dakwah Islam mengemban misi untuk membahasabumikan Islam; dakwah dalam skala yang amat luas, tanpa terbatas ruang-ruang dan dinding-dinding. Untuk itu berbagai potensi masyarakat perlu mendapat  sentuhan agar mereka pada akhirnya akan memberikan dukungan terhadap dakwah Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
Artinya, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang salih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24] ayat 55).
*sofyan Atsauri Modeong


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment