Wednesday, April 11, 2018

SEMUA BERAWAL DARI TARBIYAH


Bismillahirahmanirahim 


Islam bukan ajaran ilusi, islam bukan agama yang dijalankan berdasarkan naluri semata, islam bukan juga agama keyakinan tanpa pengamalan. Namun ia adalah agama yang berpijak kepada basis keilmuan, baru selanjutnya kayakinan dan pengamalan. Dimana para ulama menegaskan tertolaknya sebuah amalan tanpa di dasari ilmu yang shahih. Imam Syafii mengatakan,
setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka amalnya akan ditolak sia-sia.” (Matan Zubad, juz I halaman II).

Ayat yang pertama kali turun berbicara tentang Ilmu. Ini adalah sebuah penekanan akan pentingnya ilmu dan tarbiyah dalam islam.
 Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Tanpa Tarbiyah Kader Dakwah dan jamaah akan Rusak
Seandainya manusa tidak dibimbing  untuk menjaga serta meningkatkan sifat ketakwaannya, maka yang akan dominan dalam dirinya adalah sifat buruknya. Demikian juga sebaliknya. Sebab manusia telah Allah berikan dua kecenderungan tersebut, yaitu kecenderungan atau jalan kefasikkan dan jalan ketakwaan.

وَنَفْسٍوَمَاسَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَافُجُورَهَاوَتَقْوَاهَا (8) قَدْأَفْلَحَمَنْزَكَّاهَا (9) وَقَدْخَابَمَنْدَسَّاهَا (10)
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q. S. al-Syams [91]: 7-10).

Dua hal tersebut sangat di pengaruhi oleh faktor eksternal. Dimana pergaulan dan pendidikan sangat berperan penting untuk menumbuh serta mempertahankan satu di antara keduanya. Maka sebagai seorang muslim apa lagi sebagai aktivis dakwah menumbuhkan dan mempertahankan sisi takwanya adalah sesuatu yang wajib.

Menjadi rijalud dakwah (kader dakwah) yang baik bukanlah sebuah hasil, melainkan proses yang perlu selalu diupayakan dengan memperkuat kepemahaman dan kesungguhan dalam beramal. Di antara kader-kader yang baik itu, ada yang menjadi baik dengan kuatnya ibadah yang mereka lakukan, ada pula baik karena hebat dalam keilmuan, bahkan ada juga yang baik karena ekspansi dakwahnya yang luar biasa. Mereka menjadi lebih baik karena mereka melakukan kebaikan. Itulah bukti baiknya iman mereka.

Namun ibarat sebuah besi. Hanya mereka yang terasah secara terus meneruslah yang akan menjadi pisau yang tajam dan selalu mampu memotong dan menghancurkan kebatilan-kebatilan . boleh jadi seorang kader dakwah memiliki kebaikan yang membuat mereka baik, akan tetapi jika tidak terus di asah tidak menutup kemungkinan dirinya akan tumpul dan rusak. Begitu pula seorang kader dakwah yang sangat bersemangat beramal tapi tidak diiringi dengan proses tarbiyah yang sehat, maka cepat atau lambat akan segera “tumpul dan rusak”. Ini juga berlaku sebaliknya. Maka dari itu, sebuah pisau yang baik adalah yang tajam dipakai, lalu tumpul, diasah, tajam lagi, dipakai lagi, lalu tumpul lagi, diasah lagi, dipakai lagi, lalu tumpul lagi, diasah lagi, dan seterusnya. Proses ini berlangsung terus menerus, tidak terputus. Dengan begitu, pisau akan terus dalam keadaan baik dan memberi manfaat.

Di sinilah terdapat sebuah pola yang mengagumkan, bahwa untuk tetap menjadi kader yang baik diperlukan satu syarat, yang mana syarat ini bisa menentukan kualitas daya tahan mereka dalam berdakwah, yaitu konsistensi, nama lain dari konsistensi adalah berkesinambungan, berkelanjutan, kontinyu, terus menerus, stabil, langgeng, atau bisa juga disebut istiqamah.
Katakanlah ada kader dakwah yang sangat semangat berdakwah. Dalam satu pekan dirinya sering hadir disetiap pertemuan ataupun agenda-agenda dakwah tanpa terkecuali. Ini baik. Tapi setelahnya, batang hidungnya tak pernah keliatan lagi. Bahkan untuk seterusnya. Inilah yang tidak baik. Begitu pula jika ada kader dakwah yang sehari bertilawah satu juz, itu baik. Tapi kalau besok-besoknya tidak tilawah, itu dia yang tidak baik. Itu sebabnya, tanpa konsistensi, seorang tidak akan menjadi kader dakwah yang baik. Karena sekali lagi, predikat ‘baik’ adalah proses, bukan hasil. Maka itu perlu diupayakan terus menerus, konsisten.


Kehancuran  Jamaah Tanpa Tarbiyah
Kader adalah anasir terpenting dalam sebuah jamaah dakwah. Sebab ia adalah ruh yang akan menentukan hidup dan matinya sebuah jamaah. Asset terpenting jamaah adalah kader itu sendiri. Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa, potret sebuah jamaah tergantung kepada setiap individu kader. Maka untuk menghadirkan jamaah yang representative bagi umat yang sesuai dengan nilai-nilai islam, haruslah dimulai dengan mensolehkan pribadi-pribadi setiap kader. Disinilah peran jamaah untuk menyusun dan merancang program tarbiyah untuk terciptanya pribadi kader yang paripurna, kaffah; pribadi kader yang memahami dan mengamalkan islam dengan menyeluruh dan mendalam tanpa dominan kepada satu aspek dan mengabaikan aspek yang lain tawashut atau moderat.
Sebagai sebuah gerakan dakwah, maka tarbiyah dan seluruh komponennya menjadi sesuatu yang tsubut, tetap. Tidak boleh tidak tarbiyah harus di ikuti baik  suka mau pun duka. Lapang atau pun sempit, hujan ataupun panas, sekali pun ia adalah seorang ustadz jebolan universitas Al-Azhar Mesir.  Sebab tarbiyah adalah upaya mempertahankan idealisme jamaah dan di dalamnya dicetak batu batah bangunan umat yang akan ia bangun. Dan dari tarbiyah, kita akan mengetahui dari mana kita akan memulai dakwah ini, kemana arah perjalanannya, model ideal umat semacam apa yang akan ia bangun. Sehingga benarlah apa di katakana oleh para pendahulu dakwah ini, “tarbiyah bukan segalanya, namun semuanya berawal dari tarbiyah.”
Dr. Yusuf Qardawi mengatakan, “ Islam menghendaki seorang muslim agar lebih mengutamakan aksi ketimbang kata-kata. Seorang muslim tidak akan mengatakan sesuatu kecuali dilaksanakan, dan tidak melaksanakan sesuatu kecuali dengan maksud menyempurnakannya.”

Mari kita urai satu persatu:
Islam menghendaki seorang muslim agar lebih mengutamakan aksi ketimbang kata-kata.
Berbuat akan lebih nyata dan terasa dari pada sekedar sihir ucapan dan status di media social. Sebagian aktivis terkadang lebih sering mengumbar status di media social dengan postingan dakwahnya. Tapi sayang tidak seindah didunia nyatanya. Misalnya pada pertemuan- pekanan, jarang sekali ia hadir. Datang di kegiatan tarbiyah masih mengikuti suasana hati. Padahal sebagai jamaah, kita sebagai kader adalah bagian yang tidak mungkin terpisakan darinya. Segala hal yang kita perbuat akan selalu memberi kesan bahwa itu adalah  kepribadian jamaah/ organisasi. Maka, memastikan apa yang kita perbuat itu baik, adalah sesuatu yang mesti. Sebab kita adalah representasi dari jamaah itu.
Alarm kebaikan akan selalu berbunyi jika kita telah mengaturnya terlebih dahulu dengan cara mengikuti dengan intens proses tarbiyah tersebut. Hasil tarbiyah itu akan memberi getaran peringatakan yang disebut bashiro. Bashiro, cahaya hati itulah yang akan memberi pesan bahwa apa yang kita perbuat telah melampaui batas atau sia-sia dimata Allah.
Dr. Yusuf Qardawi mengatakan, “Seorang kader sejatih adalah ia yang mengerahkan seluruh potensi dirinya dan potensi sekitarnya kearah aksi dan produksi, bukan omong kosong dan kelakar belaka.”
Apa yang kita cita-citakan tentang kemuliaan islam harus kita mulai dengan memuliakan diri kita dengan ilmu.

Allah Swt telah menjanjikan derajat itu di dalam Surah Mujadilah/58 ayat 11,
 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Wibawa dan kemuliaan jamaah itu adalah kumpulan wibawa dan kemuliaan kader jamaah. kemuliaan itu bukan diukur dari harta, pangkat, kecantikan, ketampanan, dan ketenaran seorang kader di media sosial. Tapi ia adalah buah ketakwaan kader dakwah yang terus memperbaharui keimanannya dengan mengikuti proses tarbiyah yang muntijah.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

إِنَّأَكْرَمَكُمْعِنْدَاللَّهِأَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” [Al-Hujurât: 13]


Seorang muslim tidak akan mengatakan sesuatu kecuali dilaksanakan, dan tidak melaksanakan sesuatu kecuali dengan maksud menyempurnakannya
Jargon kita “Dakwah adalah Solusi” tentu ini bukanlah sekedar ucapan kosong. Karena ia lahir dari sebuah semangat pembaharuan, semangat jihad untuk mengembalikan izah al-islam/ kemuliaan islam. Maka setiap kader harus mengambil peran untuk mewujudkannya. Menjadikan materi tarbiyah sebagai sebuah perintah dan titah komandan yang harus di tunaikan oleh setiap prajurit. Tiada kata lelah bagi prajurit dakwah sebab dirinya telah ia jual kepada Allah dan ia telah di beli oleh Allah.
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka”. (At Taubáh: 111)

Dr. Yusuf Qordowi mengatakan, “ Islam membenci seorang muslim yang melakukan perbuatan tidak bermanfaat; yang mengahabiskan waktu untuk perkara-perkara tak berguna; yang sibuk membicarakan kebatilan; dan mendatangi tempat-tempat yang berpotensi menjerumuskan pada perbuatan dosa atau sibuk melayani keisengan orang lain.”

Semua berawal dari mebiasakan diri bermalas-malasan datang di pertemuan pekananya, awalnya ia datang terlambat, lalu ia pun mulai jarang hadir, ia beralasan dengan urusan kantor, kuliah dan atau sekolah. Sampai ia pun apsen di pertemuan wajibnya selama berpekan-pekan bahkan ada yang  telah hilang tanpa kabar. Dan uniknya, alasannya itu-itu saja. Bahkan ketika pertemuan di jadwalkan dirumahnya pun berbagai alasan ia berikan untuk menolak dengan bahasa halusnya. Sementara berulang kali ia memajang foto kempingnya; di pantai, gunung, cafe, di pesta bersama teman-temannya begitu sering mewarnai dunia media sosialnya. Ia lebih mesrah dengan yang lain ketimbang saudarah seperjuang dakwahnya. Padahal semua sahabat akan menjadi musu kecuali persahabatan dalam ketakwaan. Allah SWT berfirman:

الْأَخِلَّاءُيَوْمَئِذٍبَعْضُهُمْ لِبَعْضٍعَدُوٌّإِلَّاالْمُتَّقِينَ.
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. az-Zukhruf [43]: 67)

Rasulullah SAW. Bersabda:
“Di antara tanda baiknya seorang muslim adalah meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya. (HR. Malik)

Allah pun menggambarkan sifat orang yang beriman sebagai,
وَالَّذِينَهُمْعَنِاللَّغْوِمُعْرِضُونَ
Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (Al-Mu’minun:3)

Mengerjakan amanah bukan sekedar terlaksana dan asal kawajiban tertunaikan. Namun menyempurnakan pekerjaan atau amanah dengan baik adalah karakter seorang muslim sejati.
Bagi seorang kader sejati, tarbiyah adalah sesuatu yang dirindu-rindukan. Rasa rindu baru terpuaskan ketika ia hadir, menikmatinya dengan khusyudan mengamalkan apa yang ia pelajari dalam pertemuan tersebut. Kemudian ia pun bersemangat menanti pertemuan berikutnya. Ia hadir bukan sekedar memenuhi kewajiban sebagai seorang aktivis dakwah. Tapi kehadirannya karena rasa cintanya kepada islam yang akan menyelamatkannya didunia dan akhirat.
Kenapa mesti tarbiyah? Sebab tarbiyah itu menghidupkan hati. Tarbiyah islam menekankan upaya penghidupan hati agar tidak mati, memakmurkannya agar tidak rusak, dan melembutkannya agar tidak keras. Hati yang tidak di tarbiyah cenderung kaku dan beku.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ 
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Al-Hadid;16)

Setidaknya ada dua manfaat tarbiyah yang dapat kita petik;
1.      Untuk pribadi kita sebagai seorang muslim.
Sebagai seorang muslim kita berkewajiban untuk memperbaharui keimanan kita:
"Perbarui iman kalian" Lalu ditanyakan, "Ya Rasulullah, bagaimana caranya memperbarui iman kami?" Beliau pun menjawab, "Perbanyaklah ucapan Laa ilaha illah." (HR. Ahmad dan Hakim dalam Al Mustadrak ala Shahihain)

Tarbiyah juga adalah sarana hidayah, seyogyanya di ikuti secara intens sampai hujan hidayah itu memabasahi kita dan menghanyutkan kotoron hati kita.
مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
 “(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,”(Q.S Asyu Aro:88)

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,”( Q.S Asyu Aro:89)


جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ: ” أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

 “Perbarui iman kalian”
“Ya Rasulullah, bagaimana cara kami memperbarui iman kami?” tanya para sahabat.
Beliau bersabda, “Perbanyaklah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’.

Dengan menghadiri forum tarbiyah, maka setidaknya kita telah mendatangi sarana hidayah, kita telah menjemput hidayah itu. Dan kita lagi berikhtiar untuk memperbaharui keimanan kita. Sebab disana kita melakukan proses tazkiyah tunafs, pembersihan jiwa dengan zikir dan tilawah al-quran.
Dengan tarbiyah juga kita telah melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya untuk menuntut ilmu.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَاقِيلَ انْشُزُوافَانْشُزُوا يَرْفَعِ  الله الذِيْنَ امَنُوا مِنـْكُمْ وَالّذِيْنَ اُوتُو الْعِلْمَ دَرَجَـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْـمَلُـوْنَ خَـبِيْـر 
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,"Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan  memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah  kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat". (Q.S Al-Mujadalah ayat 11) 


وَمَا كَـانَ مِنَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُ كَافّةً فَلَوْلاَنَفَرَمِنْ كُلِّ فَرِقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةً لِيَتَفَقّهُوأ فِى الدّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمُهُمْ اِذأ رَجَعُوْ اِلَيْهِمْ لَعَلّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
Artinya ;

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi kemedan perang, mengapa sebagian diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya " QS. At-Taubah ayat :122



عْنْ اَنَسٍ اِبْنُ مَالِكٍ قَلَ قَالَ رَسُوْل الله صلى الله عليه وسلـم  طَلَبُ الْعِلْم فَرْيْضَةً عَلى كُلّ مُسْلِمٍ ووضِعً العِلْمِ عِنْدَ غَيْرُأهْلِهِ كَمُقِلِّدِ الْخَنَا زِيْرِ لْجَوْهَرَولَلؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
Artinya  :
"Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda: Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara, atau emas" HR.Ibnu Majah

2.      Sebagai jamaah Tarbiyah adalah proses idiologisasi anggota jamaah.
Ide dan gagasan jamaah untuk membangun dakwahnya selalu berawal dari tabiyah itu sendiri. Mengenal siapa, apa dan kemana suatu jamaah tidak cukup hanya mengikuti aksi-aksinya yang oleh semua organisasi melakukannya. Tapi dengan mengkuti proses tarbiyah kita akan faham dengan pehaman yang utuh akan sebuah jamaah tersebut. Untuk itu hanya ada satu jalan untuk mengenal fikrah atau idealisme suatu jamaah adalah dengan mengikuti proses idiologisasinya yaitu tarbiyah yang berkesinambungan.
Salah satu dari tiga bentuk aktivitas idiologisasi gerakan sebagaimana ditulis dalam buku Menyongsong Mihwar Daulah, oleh ustadz Cahyadi takariawan. yaitu;Membentuk kepribadian islam. Membentuk kepribadian islam adalah dengan terlebih dahulu menanamkan keimanan yang kokoh kepada anggota jamaah. sampai semua terwarnai, tercelup dengan nilai-nilai keimanan kepada Allah dan rasulu-Nya.

صِبْغَةَ اللهِ وَ مَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً وَ نَحْنُ لَهُ عَابِدُوْنَ
 “Shibghah (celupan dari) Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya (selain) daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah”.
(QS Al-Baqarah (2) ayat 138)

Dengan keaktifan kader mengikuti proses tarbiyah adalah upaya mempercepat tercapainya apa yang dicita-citakan bersama, yaitu mengembalikan kemuliaan islam sebagai uztadzul alam.

Kita meyakini bahwa islam adalah satu-satunya system yang mampu mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Kita menyakini islam adalah agama yang Allah karuniakan kepada umat manusia untuk membimbingnya menuju kepada kebahagian dunia dan akhirat. Namun tentu semua itu harus kita upayakan dengan terlebih dahulu membenahi setiap pribadi kita sebagai subjek juga objek dakwah itu. Kita ingin merobah keadaan umat dengan terlebih dahulu memperbaiki diri kita dengan nilai-nilai islam yang kita dakwahkan. Oleh karenanya kegiatan tarbiyah menjadi sesuatu yang wajib di tunaikan oleh setiap anggota jamaah/ organisasi dakwah.

Tanbihun lirajalil Dakwah
Merasakan dan menghayati bahwa da'wah merupakan amanah ilahiyah.
Da'wah merupakan tanggung jawab kita sebagi junudud  da'wah. Menghindar dan lari dari amanah da'wah berarti telah khianat dalam amanah. " Wahai orang-orang beriman  janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada kamu, sedang kamu mengetahuinya " (QS. Al Anfal : 27)

Yakin akan janji Allah swt.
Yakin adalah pengendali hati, kesempurnaan iman berawal darinya. Kita beramal karenanya, berjuang dengannya, sukses karenanya. Jika yakin tertanam dalam hati, ia akan berbuah cahaya dan kemuliaan, membersihkannya dari keragu-raguan, kemarahan, kekhawatiran, dan kesedihan. Rasa ridha, syukur, dan tawakkal disandarkan padanya. Yakin adalah inti materi dari semua kedudukan. " Apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakkallah kepada Allah " (QS. Ali Imran : 159)

Berpegang teguh kepada Islam secara syamil wal kaamil.
Ikhwah fillah, Islam yang syamil dan kaamil akan terealisir ketika mazhahir mahawir wal marhaliyah berjalan secara progresif. Semakin besar mihwar, Tahapan da'wah kita maka semakin besar pula peluang Al Islam menjadi minhajul hayah, jalan kehidupan. Kalau kita merasa nyaman dengan kondisi sekarang, apalagi merasa bahwa proses tarbawiyah kita dimasa lalu adalah yang terbaik, maka hakikatnya kita menjadi salah satu faktor penyebab terhambatnya kemajuan da'wah bagi terealisasinya syumuliyatul Islam. " Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam islam secara Kaafah " (QS. Al Baqarah : 208)

Memelihara dan menjaga kebertahapan da'wah secara seimbang dalam pertumbuhannya.
Kebertahapan dalam da'wah adalah jalan yang ditempuh oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Pada periode makkah, Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar pemahaman yang utuh kepada para sahabatnya pada tataran konsepsi (Al Iman), dan pada periode madinah, proses aktualisasi nilai terlihat jelas dengan banyaknya ayat Allah SWT yang berkenaan dengan hukum dan praktik 'ubudiyah pada tataran operasional (Al Islam). Setelah internalisasi nilai dan kristalisasi struktur (tanzhim),

Meri'ayah hasil-hasil da'wah
Ikhwah fillah, seringkali kita terpesona oleh bilangan atau angka capaian da'wah kita dan lupa untuk meningkatkan  kapasitas diri untuk mampu membina dan mengembangkan capaian-capaian da'wah kita. Tarbiyah Islamiyah adalah solusi terbaik yang pernah ada dan layak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kader da'wah kader da'wah.

Wallahu ‘alam bishawab

Editor; Ukhti Deva Supit
            Mahasiswi IAIN Manado
                        Aktifiv Dakwah Kampus












luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment