Tuesday, November 6, 2018

Aku Pacaran Lagi


Nasehatnya selalu ku dengar disetiap pekan. Awalnya nasehat itu syahdu terdengar menusuk sanubariku, mengingatkan akan dosa yang ku perbuat. tapi kini tidak lagi. Hati ku membatu. Ini bukan kali pertama ku lakukan. Sebelumnya aku sudah pernah pacaran. Yah pacaran, lalu putus dan aku berjanji pada diriku, kepada Allah, dan kepada mereka yang menyangiku untuk tidak mengulanginya lagi. Tapi inilah satu kegilaanku. Janji yang pernah aku tanam ternya janji kemunafikan. Mereka yang telah gembira saat aku kembali dijalan Allah, kini kusakiti lagi dengan noda yang nista. 

Kini didepan meraka aku terlihat seperti seorang yang taat. Perintah dan amanah dakwah selalu sigap ku tunaikan. Semua ku lakukan hanya ingin menutupi kegelisaanku. Aku ingin mencoba, bisakah taat dan maksiat ku jalani dalam satu waktu. Awalnya aku menduga bisa. Tapi ternyata dugaan ku keliru. Keduanya saling mengalahkan. Dan aku mulai sadar tak mungkin syawat menyatu dengan ketaatan.

Sebenarnya tidak hanya mereka yang berharap kebaikan tentang diriku yang tersakiti. Bahkan batinku terkoyak dengan nafsu yang kusebut cinta. Yah cinta! Cinta yang belum waktunya tumbuh tapi oleh syahwat ku paksa ia hadir untuk memuaskan sifat kebinatanganku. Aku marah! Marah pada diriku yang tak lagi mempan di nasehati mereka yang benar mencintai dan menyangiku karena Allah. Aku kecewa! Kecewa pada diriku yang tak lagi ikhlas berjuang seperti dulu. Dulu aku hadir dalam pertemuan pekananku. Kini pertemuan pekanan yang dulu kata nabi ia adalah lingkaran taman surga. Namun kini aku tinggalkan dan tergantikan dengan pertemuan pekanan di taman Syahwat yang menipu.

Jiwa ku meronta! Berharap ada “tangan” Tuhan menarikku untuk pulang. Pulang dalam pangkuan iman dan hidayah. Tapi aku malu. Aku malu kembali dengan wajah yang tertunduk seperti ini. Aku yakin mereka masih sudi untuk memaafkanku. Tapi sekejam inikah diriku kepada mereka. Masih ingat jelas ketika murabi ku berpesan. “ Ukh jaga hatimu. Jangan biarkan ia terjerumus kedua kali. Jangan tertipu dengan nafsu yang terlihat indah sesaat namun sakitnya berkepanjangan.” Ujarnya, menasehatiku. “Iya Kak,” ku panggil Ia seperti itu. “Aku janji untuk tidak mengulanginya lagi kak”. Ucap ku.
Ya Rabi… teguhkanlah imanku! Agar aku tak lagi kembali dalam kesesatan ini setelah Engkau Selamatkan Aku darinya. Amin
Kawan Jangan Bosan mengajaku lagi. Maafkan aku yang lemah ini.

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment