Thursday, February 7, 2019

IPPM & GERAKAN POLITIKNYA










“Hati-hati dengan IPPM sebab mereka adalah gerakan Politik!”. Begitulah ia di ingatkan oleh orang-orang terdekatnya. Terkesan penuh dengan ke khawatiran yang berlebihan atau bisa dibilang lebay stadium akhir. Pasalnya IPPM tidak menyatakan dukungan politiknya kepada figur politisi mana pun.

Peristiwa itu menjadi alasan kenapa saya harus berbicara politik terkait dengan gerakan dakwah IPPM. Sampai hari ini seperti apa yang saya sebutkan di atas, secara lembaga IPPM tidak pernah menyatakan dukungannya kepada satu figur Politisi mana pun. Kecuali secara nasional kita ada pihayak yang di dukung oleh Ijtimak Ulama.

Mari kita bicara IPPM  dan agenda politiknya; kalau pun IPPM punya agenda politik, lalu  dimana salahnya? Bukankah berpolitik di Negara demokrasi seperti Indonesia adalah legal adanya? Bukankah UUD kita menjamin hak berpolitik setiap raknyatnya? Bukankah politik itu memikirkan kepentingangan kolektif bangsanya? Sedangkan yang demikian itu adalah bagian dari ajaran agama yang mulia ini. Memang ada saja orang-orang yang memanfaatkan “kendaraan politik” sebagai ajang memuaskan nafsu syahwat kekuasaannya, tapi tentu sangat keliru ketika itu di jadikan sebagai alasan untuk men-justifikasi IPPM.

Sebagai warna Negara dan umat yang beragama, maka kita punya UU dan Dogma agama, Syariah untuk menilai sesuatu itu salah dan benar. Jika sah dalam pandangan keduanya maka apa pun alasannya kita tidak punya hak untuk mengatakan itu salah. Sebab jika setiap orang punyak hak memandang benar dan salah tanpa menggunakan kedua timbanagan sah di atas, maka akan terjadi kekacauan dalam kehidupan kita beragama, berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu Negara hadir untuk menjadi hakim, menilai salah benarnya suatu kelompok atau perorangan. Sedangkan benar dan salahnya dalam pandangan agama, maka ulama menjadi hakim untuk meniali kesesuaiannya dengan syariah atau tidak. Begitulah cara kita hidup dalam benegara.

Memang IPPM mempunyai pemikiran yang berbeda dengan kebanyakan ormas yang ada di Boltim. IPPM memandang kekuasaan adalah sarana yang efektif untuk menebarkan kebaikan kepada semua anak bangsa, tanpa membedakan rasnya. Sehingga itu menjadi narasi yang dibawanya.

Kader-kader IPPM di bawa pada alam fikir yang melampaui zamannya. Mereka di tuntut untuk menjadi insan yang tidak hanya cerdas secara kognitif tetapi juga mempunyai konsep yang matang tentang beragama, berbangsa, dan bernegara.

Landasan filosfi hidupnya dibangun di atas ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. dengan pemahaman para Ulama yang Muktabar. Kepedulian kepada bangsa dirangsang sejak dini agar dikemudian hari apa pun profesinya dia punya kepedulian kepada keadaan bangsanya. Bagi kami, menjadi warga masyarakat yang apatis adalah sebuah kegagalan dalam hidup. Yang demikian itu bertentangan dengan fitrah manusia yang mempunyai kecenderungan untuk saling membantu. Sehingga disetiap kesempatan mereka di tuntut untuk mempunyai kepedulian yang melampaui kepedulian orang pada umumnya. Itulah gerakan politik IPPM. Sehingga di kemudian hari mereka secara kualitas, kapasitas dan sosial telah mempunyai modal yang cukup untuk menjadi pemimpin di masing-masing level dan segmennya.

Menjadi pribadi yang soleh dalam pandangan IPPM tidak sekedar rajin kemasjid, dan rajin tilawah Qurannya, atau sekedar menutup aurat dengan jilbab besarnya bagi seorang wanita. Tetapi jauh dari pada itu kader IPPM dibimbing menjadi manusia yang paripurna, memilik syakhsiayah Islamiayah tidak sekedar hanya bisa beribadah ritual, tetapi ibadah sosial juga menjadi modal utama untuk mendapat ridha Allah SWT.

Sehingga kita mengenal shaleh secara ritual dan soleh secara sosial. Jika sedikit kita membuka lembaran sejarah perjuangan Nabi Muhammad, maka akan kita temukan apa yang beliau lakukan dalam rangka menyebarkan islam tidak hanya membimbing umat manusia untuk bisa shalat, puasa, haji dan lain-lain yang terkait dengan ritual ibadah jepada sang oencipta,  Allaah Set. Tetapi ada shadaqohnya, ada jihadnya, dan ada konsep bernegaranya. Sehingga islam menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itu pulalah, yang membuat IPPM menentang mendikotomi islam dan politik. Sebab pada faktanya Rasulullah Saw membangun madinah sebagai sebuah negara. Dan itu adalah fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Tentu yang kita maksud adalah berkehidupan berbangsa dan bernegara yang bernafaskan islam dalam konteks Kesatuan Negara Republik Indonesia sebagaimana yang di ajarakan oleh para penduhulu bangsa kita.

By Sfyan. A.M

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment