Sunday, June 16, 2019

Mengoreksi Euforia Raya Ketupat dan Pergeseran Nilai didalamnya



Raya ketupat sejatihnya bukanlah bagian dari hari raya yang di sebutkan dalam agama. Adapun raya yang di sebutkan dalam ajaran agama islam hanyalah dua. Yakni Idul Fitri (1 Syawal dengan takbir dan shalat Id-nya) dan Idul Adha dengan takbir, shalat id, dan Qurban di dalamnya.

Selain keduanya kita tidak mengenal hari lebaran lain. Namun sungguh pun demikian Raya Ketupat bukanlah hal yang terlarang sepanjang niat dan pelaksanaannya tidak melanggar prinsip syari'ah. Ia sama saja dengan 17 agustus. Ia bukan perkara agama, ia hanya aktivitas sosial dan budaya yang pada dasarnya mubah (boleh) selama tidak ada dalil (suatu hal yang haram yang dilaksanakan di dalamnya).

Namun tentu hal ini bukan berarti lepas dari krik sebab satu kekhawatiran yang nantinya akan membuatnya lepas dari budaya dan nilai agamis didalamnya. saya mencermati hal ini dengan baik, dan kemudian saya melihat ada indikasi pergeseran nilain di dalamnya. Jika saat ini perayaan Ketupat umunya masih pada koridor yang dibenarkan, namun di saat yang sama gejala pergeseran nilai ini pun mulai terasa. Saya kemudian memandang bahwa Raya Ketupat ini adalah perayaan atau ungkapan rasa syukur pasca puasa ramadhan dan puasa Syawal yang di laksanakan selama 6 hari usai 1 Syawal. Namun kemudian faktanya hari ini banyak di rayakan oleh mereka yang boro-boro puasa syawal, puasa ramadhan pun tidak sama sekali. Selaipun memang tidak terlarang, namun kurang etis.

Seandainya para punggawa dan pengambil kebijakan di tingkat desa dan para pemuka agama tidak mampu mempertahankan nilain luhur dan keasliannya maka, saya khawatir kasusnya akan sama dengan Aqikahan. Aqikahan adalah bagian dari syariat agama. Lalu kemudian terjadi sedikit modofikasi pada palaksanaannya dengan menambahkan menabuh rebana dan beberapa bait solawat serta riwayat nabi yang bacakan oleh para tetua agama di kampung.

Pada 10 tahun belakangan, mulai terjadi pergeseran nilai. Di beberapa kasus saya temukan Aqikahan kini berubah menjadi acara (Tembang Kenagan) dimana ada penyanyi yang mendendangkan nyanyian yang sangat jauh dari esensi Aqikahan. Raya ketupat pula akan bernasip sama jika generasi berikut tidak mengetahui filosifi dasar raya ketupat.

Sejatinya Raya Ketupat adalah sarana silahturahmi antar warga masyarakat yang telah usai melaksanakan Ibadah pausa ramadhan dan mengevaluasi sejauh mana berdampak sosial kepada masyarakat umumnya. Jangan sampai berganti dengan budaya konsumtif belaka dan Euforia alah Jahiliyah.


 Bay: Sofyan Atsauri Modeong








luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment