Friday, July 26, 2019

KERINDUAN SEORANG HANIN



Namaku Hanin, Hanin Dilara Sofea, umurku 17 tahun. Aku  tinggal dengan seorang wanita yang ku panggil ummi, dia adalah ibuku. Abi meninggal saat aku kecil. Dan  Aku adalah anak tunggal.
 Sejak kecil aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang patuh dengan syariat islam. Awalnya aku  dan ummi tinggal dirumah kakek. Namun,saat aku kelas 1 Madrasah tsanawiyah ummi memutuskan untuk tinggal terpisah dari kakek. kami kembali kerumah yang kami tinggali dulu sebelum abi meninggal.  Ummi membuka usaha kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan kami.

Seperti remaja pada kebanyakan, aku tak luput dari kata pacaran. Aku  mempunyai seorang pacar, namanya Zaki . Zaki adalah seorang laki-laki istimewa bagiku, dia baik, tampan, dan juga sopan, dia juga rajin sholat, tilawahnya pun sehari bisa 1 jus. Aku dan zaki pacaran baru 7 bulan yang lalu, Meskipun aku dan zaki tau yang kami lakukan adalah dosa, tapi kami terlalu asik menjalaninya , alasannya toh kami tidak sampai berbuat yang keterlaluan. Ummi pun tau soal hubungan kami, ummi sudah melarangnya, bahkan berkali-kali ummi menyuruhku menjauhi zaki dan dengan tegas melarangku bertemu dengan zaki, tapi aku membantah ummi dan selalu mebangga-banggakan zaki di depan ummi, aku juga diam-diam sering bertemu zaki.  

“sudahlah hanin, akhiri saja hubunganmu dengan zaki,itu dosa nak. Ummi tidak mau kamu sampai salah jalan terlalu jauh.”  Larang umi dengan suara yang sangat lembut.
“tapi mi, hanin sayang zaki, begitu pun zaki.” Bantahku
“kalau dia sayang padamu suruh dia untuk melamarmu,ummi menunggu itu.”
“ummi, zaki belum siap, sudahlah ummi jangan selalu menuntut zaki untuk melamar hanin. Zaki baik ummi, dia rajin sholat.”
“jangan tertipu ikhwan modus hanin, kalau dia benar-benar menyayangimu dia akan segera melamarmu, membawamu ke jalan yang benar, bukan malah membawamu semakin dekat dengan neraka. Ingat hanin ummi tidak suka kamu sering bertemu dengan zaki.”
“terserah ummi, hanin capek mi.”
Untuk yang pertama kalinya ummi menegurku dengan nada yang tinggi.
Besoknya aku janjian untuk ketemu zaki, aku berencana menyampaikan apa yang ummi katakan kemarin.
“Melamarmu? Tapi hanin, aku belum siap. Bilang pada ummi mu aku tetap akan melamarmu tapi tidak sekarang, aku belum siap sekarang hanin.
“sudah ku katakana pada ummi zaki, tapi ummi bilang jika kau benar-benar menyayangiku kau harus segera melamarku.”
“Tapi bukan sekarang hanin, menikah muda? Aku belum siap.”
“tapi ki..”
“sudahlah hanin aku capek, aku pulang dulu, kamu hati-hati pulangya, Assallamuallaikum.”
“waallaikumsalam.”

Setelah kejadian hari itu aku merasa zaki menjauhiku, bahkan beberapa kali aku memintanya untuk ketemu tapi dia selalu beralasan sibuk.
“Ada apa nin? sepertinya kamu ada malasah. Coba ceritakan, siapa tau kak syifa bisa bantu.”
Kak syifa adalah tetanggaku dia tinggal di kosan sebelah rumahku, dia baik, sopan,dewasa dan suka memberi masukan yang positif.
“zaki kak, akhir-akhir ini hanin merasa zaki menjauhi hanin.”
“kamu masih berhubungan dengan zaki.”
Aku hanya mengangguk.

“Nin, kamu tau kan itu dosa? Ummi mu juga sudah berapa kali melarngmu berhubungan dengan zaki, lalu kenapa masih dilkukan nin?”
“hanin sayang zaki kak, begitupun zaki.”
“hanin, kakak tau hanin sayang sama zaki, kakak juga tau zaki baik,dia sering sholat tilawahnya juga baik. Tapi nin, kalau zaki beneran  sayang hanin dia akan segera menghalalkanmu, bukan mengajakmu pacaran. Ingat nin, jangan  tertipu ikhwan modus.
Bersambung…….

Dwi


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment