Friday, August 2, 2019

Bagiku Halaqah Adalah Oase di Gurun Kefuturan




Namaku Nazria Modeong, Anak kedua dari tiga bersaudara, Aku punya seorang kaka lelaki yang sering aku panggil kak Ito dan seorang adik perempuan yang bernama Amira, Keluarga kami keluarga biasa-biasa saja, Ayahku seorang petani, sedangkan ibuku seorang pedagang dipasar, hidup kami tidak muluk-muluk, asal bisa memenuhi kebutuhan hidup, itu sudah cukup.

Sejak duduk di bangku SMP kelas delapan, tahun 2013 lalu, saya sudah akrab dengan kata halaqah, halaqah sendiri berasal dari bahasa Arab yang memiliki artinya Lingkaran, ada juga yang menyebutnya Liqo'  yang mempunyai artinya Pertemuan dan nama lainnya Mentoring atau Pembinaan. Kami bertemu disetiap pekan dengan duduk melingkar dan mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh seorang Murobbiyah, dengan serangkaian acaranya yang dimulai dengan Tilawah Al-Qur'an, Setoran hafalan, kultum, ceramah yang disampaikan oleh pembimbing atau murabbi, berinfaq,  evaluasi ibadah, dan kadang ditutup dengan maka-makan. Ini serunya… Semua itu adalah rangkaian acara halaqah yang biasanya tergantung kesepakatan awal kita dihalaqah itu mau seperti apa konsep acaranya sampai program kerja juga setiap semesternya .
Nazria Modeong

Pertama kali ikut Halaqoh, saya dibimbing oleh seorang Murobbiyah yang sangat saya kagumi, saya sering menyebutnya kak Anna Hamdani, kesan pertama, ada rasa grogi, mungkin karena itu langkah awal saya untuk menjaga diri. Tapi, akhirnya chemistry  itu menyapa batinku, hingga saat ini pertemuan demi pertemuan kala itu selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dalam galeri hidupku. Setiap memorinya membawa aku pada kerinduan yang menderu, mengenangnya membuat aku semakin ingin kembali di masa-masa itu.

Berkumpul bareng teman-teman, belajar bersama, berbagi pengalaman, curhat-curhatan, dan menyelesaikan masalah bersama, sungguh semua itu menjadi lukisan indah dalam kanvas kehidupan saya. Setiap lengkungan garisnya melahirkan warna dan gambar yang membentuk kepribadian aku hingga hari ini.

Dalam setiap pertemuannya, yang disampaikan adalah untaian nasehat yang tulus mulai dari dasar-dasar agama, materi awalnya saya ingat benar, adalah aqidah, seterusnya  tata cara shalat sampai pada problem kehidupan masing-masing. Dari lingkaran kecil inilah kita banyak dilatih Istiqomah dalam amal shaleh dan dipacu berlomba-lomba dalam kebaikan.

Disini saya dan kawan-kawan di ajari dan dilatih untuk bertanggungjawab terhadap diri sendiri, kepada orang lain, dan lingkungan kita sampai pada suatu waktu lingkaran ini kemudian menjadi prioritas saya untuk selalu berupaya ada dan hadir di setiap pertemuannya. Saya kemudian mulai sadar, bahwa saya pribadi, dan mungkin kamu juga, sangat membutuhkan lingkaran kecil semacam ini.

Hemm, walaupun kadang jika mengingat-ingat waktu awal gabung bersama kelompok ini, saya termasuk orang yang males-malesan. Dan itu menjadi sesal saya hari ini. Yah kala itu, kalau mau datang saya datang. Tapi kalau lagi ngak mut, ya nggak datang. Tapi pada akhirnya cinta itu juga benar-benar menghujam sanubariku. Kalau seminggu saja tidak bertemu rasanya ada yang kurang, mengutip sebuah lirik lagu, “kau  separuh nafasku”. cie cie… 

Bersama lingkaran ini membuatku semakin mengerti arti persaudaraan yang sebenarnya. Bukan sebatas teori di atas kertas. Atau keindahan puisi sang pujangga. Tapi memang ini refleksi sanubari. Bahwa lingkaran ini membuatku semakin merasakan nikmatnya persaudaraan. Tidak ada bahasa dan narasi ekstrem yang di ajarkan. Jangankan mau bicara ektremisme, radikal, atau apalah kata mereka itu. Bahkan berfikir membalas cacian orang saja kami tidak diizinkan.

Dari lingkaran kecil ini, kemudian saya mulai mengerti dan termotivasi untuk tidak mudah menyerah mengejar masa depan. Mungkin tidak berlebihan jika ada yang mengatakan, “Halaqah bukan segalanya, tapi seganya di mulai dari halaqah”. Ya, anda boleh mengatakan itu bagi kamu (saya pribadi) yang belum berkesempatan mencicipi nikmatnya belajar di pondok pesantren. Itu benar! Tapi di halaqah, lebih dari sekedar belajar.  Disini komitmen mengamalkan islam ditanamkan, yang tadinya hanya sebatas ilmu pengetahuan, menjadi amal shaleh dalam kehidupan. Walaupun jujur saja, di halaqoh tidak cukup membuat kita menjadi ustadz atau ustdzah yang mempunyai keilmuan syariah yang mumpuni, namun setidaknya ia mampu menjadi oase di gurun kefuturan yang kerontang.

Saat ini, saya menetap di Bandung sejak awal tahun 2017 lalu,  saya belajar di Ma’had Al-Imarat Bandung, bersama kedua sahabat baik saya; Prayescita dan Indarsyah, mereka berdua adalah teman satu kelompok halaqah dulu di kampung, dan sampai saat ini juga kami masih bersama dalam lingkaran kecil itu. Di Ma'had Al-Imarat kami di bimbing oleh para dosen lulusan timur tengah & LIPIA, dengan kurikulum LIPIA Jakarta.

Dan Alhamdulillah, saya pun masih aktif mengikuti kegiatan ini (halaqoh) perpekannya, bagi saya ia sudah menjadi kebutuhan ruhiyah yang wajib adanya.  Diselah-selah kesibukan saya dengan MK di Al-Imarat, saya selalu berupaya mengikuti program halaqah disini. Kurang lebih memasuki 8 tahun sudah saya bersama dengan halaqah tarbiyah.  Walapun di kampus kami di bekali dengan segala Materi Kuliah syariah dan bahasa arab, namun bagi saya, halaqah tidak bisa ditinggal. Ia adalah pelengkap pengetahuan saya tentang cara mengamalkan islam dengan baik sekaligus benteng keimanan dari kefuturan. 

Dari lingkaran kecil ini juga saya belajar berfikir tentang banyak hal. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat, bangsa, dan Negara ini. Kami dilatih dan di dorong memberikan ide dan gagasan besar yang kemudian di eksekusi bersama demi kebaikan bangsa Indonesia. Harapannya dikemudian hari kami mampu menjadi bagian dari pemimpin yang memberikan kontribusi terbaiknya untuk agama, bangsa dan Negara. Itu mungkin alasanya kami diminta untuk mengurangi bercanda yang tidak ada faedahnya saat halaqah di mulai.

Peran Murobbi/Murobbiyah-lah yang sangat mempengaruhi keshalehan para mutarabbi-nya. Dengan kesabaran,  ketekunan dan kecerdasan merekalah, membuat Halaqoh ini berwarna beda dari yang lain. Mereka memikirkan generasi penerus bangsa yang shaleh, pintar dan kuat terhadap menghadapi problem kehidupan. Mereka bisa jadi Ayah-Ibu, Teman, Kaka, Sodara, yang siap membimbing kami, mendengarkan segala masalah kami, memberi solusi, semangat dan support, bahkan sering pula materi. Saya bersyukur Allah taqdirkan saya bisa mengenal halaqah ini dan merasakan kesejukan didalamnya.
Terima kasih Murobbi/Murobbiyahku kalian luar biasa, kalian inspirasiku 💕

Bay; Nazria Modeong


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment