Thursday, October 31, 2019

Setahap Demi Setahap Iblis Melemahkanmu



 
foto Ilustrasi

"Kenapa sampai harus seperti ini sih? Apa anti tidak tahu ini dosa ukh?" Suara yang pelan namun penuh emosi terdengar di sudut masjid, di sore yang gerimis itu. Sesekali ada suara tangis terdengar lirih.

Perlahan dengan penuh rasa ragu, aku mencoba mendekati suara yang tidak asing itu. Ternyata, Dian, seorang wanita juga aktivis dakwah kampus. Ia adalah sosok yang selalu menjadi cerita indah, wanita berparas cantik, berhijab syar'i ini juga mempunyai sederet prestasi yang gemilang.

Demo mahasiswa yang meminta revisi UU KPK beberapa bulan yang lalu, juga dikutinya. Tak tanggung-tanggung, ia berada di mobil komando utama.

Menjadi narasumber di organisasi kampus dan dakwah pelajar, adalah kegiatan rutinya. Ia juga menjadi sosok yang hangat bagi teman-temannya, sehingga ia menjadi tempat curhatan adik-adik binaan dan teman seperjuangannya.

Dian menjadi sosok yang diperbincangkan banyak orang, tak terkecuali Fatur temannya satu organisasi. Diam-diam fatur sering memperbincangkan sosok akhwat dambaannya, yang  dikemudian hari persis sama dengan sosok Dian - kepada teman-teman nya.

Awalnya, semua biasa-biasa saja dan masih dalam batas kewajaran. Namun berjalannya waktu, keduanya intens saling membalas chat, dan mengintip story di wa.

Semua berwal dari diskusi problem organisasi dakwah yang di nahkodai oleh Dian.

Sebagaimana perempuan pada umumnya, Dian yang super itu hanyalah wanita biasa yang pada akhirnya akan mengalami rasa capek.

Dian yang lagi dikejar tugas kuliah, amanah dakwah, problem keluarga, membuat dian mencari orang yang menurutnya bisa diajak berbagi cerita. Dan orang yang dipandang tepat itu adalah Fatur.

Fatur kemudian menjadi pilihan yang dipandang tepat. Toh fatur orang yang terjaga shalat 5 waktunya, rajin ikut kajian,. Tilawah nya tetap terjaga. Tidak mungkin Fatur akan berfikir apa lagi berbuat nista. Gumam Dian.

"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh," ucap salam dari dian di seberang dinding digital via HP yang jadul itu.

 "Waalaikumusalam wr wb, iya Dian, ada yang bisa ana bantu?", Tanya fatur.

"Afwan akhi, ana ganggu sedikit," pinta Dian, dengan sedikit gugup.

"Iya, tidak masalah, apa ada yang bisa ana bantu ukh?" Tanya Fatur yang agak heran.

"Begini fatur, saya punya masalah soal organisasi yang ku pimpin ini, saya bingung entah dengan cara apa lagi saya harus mengatasinya, antum kan tahu, banyak senior yang telah pergi pindah nahkoda, mereka yang masih ada, yang diharap kini asyik dengan organisasi lainnya, ditambah lagi banyak yang sudah mulai pacaran, saya bingung. Saya butuh nasehat antum akhi!" Pinta Dian.

Fatur kemudian memberikan nasehat sebisa dia, fatur mengawali dengan mengutip beberpa ayat untuk menguatkan Dian,
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)


Dian mulai merasa takjub dengan kelembutan dan kecerdasan Fatur. Cara fatur menerangkan ayat-ayat suci membuat Dian terpukau. Dan setiap kali Dian punya masalah, fatur menjadi orang pertama yang dimintai pendapat.

Akhirnya, keduanya intens berkomunikasi, menukar cerita dan cerita dikampus. Pembicaraan tidak lagi sebagai curhatan masalah organisasi.  Tapi keduanya sudah sering membuat janji pertemuan. Makan dan belanja bersama sudah menjadi agenda bulanan, bahkan mingguan keduanya.

Tidak ada kata cinta sebagai mana yang lain bercinta, tidak ada kata I love you yang di ungkapkan oleh fatur kepada Dian, begitu juga sebaliknya. Keduanya bersikukuh hanya teman biasa. Sekali pun perasaan yang muncul sudah menjadi dalil qoti' bahwa ada yang tak lazim dari keduanya.


Bukan simbol yang terlarang, namun substansi dari rangkaian rasa yang diekspresikan yang dilarang.

Sejenak Dian terbangun dari tidur panjang kefuturannya, ia tersadar bahwa ia telah salah jalan. Ia baru sadar kalau ia terbawa perasaan yang dulu dilarangnya kepada adik binaan. Ia baru tahu kalau jalan yang sama yang membuat adik binaan nya akhirnya memilih jalan menikah lebih cepat akibat hamil diluar nikah.

Namun sayang kesadaran itu baru hadir di saat semua orang telah menaruh kecewa yang dalam terhadapnya.Ia baru sadar kalau reputasi nya telah buruk dihadapan mereka, yang dulu pernah mengaguminya.

Ia teringat nasehat ustadznya, "Terkadang orang menjadi paling bijak di saat menasehati orang lain, namun pada masalah yang sama yang menimpa dirinya ia menjadi orang yang paling bodoh".

Oleh: Sofyan Atsauri Modeong
Editor : Ayu Wulandari Mamonto


luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

2 comments:

  1. Hal yang hampir semua aktivis dakwah alami. Terbawa arus dan tergoda dengan duniawi tanpa ia sadari. Sekalipun dia sadar pasti kesadaran itu datang diakhir.
    Setan memang selalu menggoda disisi terlemah kita, dan kita terlalu lemah untuk mengikuti maunya.
    .
    Maksih untuk tulisannya. Sangat inspirativ dan membuka mata kembali. Ini merupakan tamparan yang menyakitkan bawaha diri ini harus bemuhasabah lagi. Semoga kita semua dalam lindungan Allah dan bisa menjaga iman ini. Aamiin.

    ReplyDelete