Sunday, November 17, 2019

Kerinduan Hanin di Jalan Dakwah

foto Ilustrasi
"Kepada semua tamu undangan mohon untuk menempati tempat yang sudah disediakan, acara akan segera kita mulai," suara seorang wanita berhijab syar'i di atas podium terdengar menggema di rungan aula kantor Bupati, tempat kami menyelenggarakan seminar Kemuslimahan.

Terlihat beberapa panitia yang masih pada sibuk mempersiapkan acara yang tidak lama lagi akan segera dimulai.

Disudut ruangan yang besar itu ada sosok perempuan berhijab ping,  yang sibuk menelepon beberapa temannya memastikan kedatangan mereka. "Afwan ukh, posisi anti dimana, Jadi datangkan?" Tanyanya dengan penuh harap.

"Ditunggu yah ukh, acara sudah mau mulai ini, jangan kelamaan ya, nanti nyesal". Susul nya meyakinkan. Not not not, suara Hp yang tiba-tiba putus sebab jaringan yang suka ngadat.

Windi Astuti, seorang apoteker juga aktivitas dakwah yang bergelar Magister, diundang sebagai narasumber, ia sudah bersiap mengambil tempat di kursi yang tersedia. Ia tinggal menunggu arahan panitia. Acara tinggal beberapa menit lagi di mulai.

Peserta dan panitia sudah siap memulai acara seminar Kemuslimahan yang baru kali ini dilaksanakan oleh struktur baru organisasi dakwah ini. Biasanya kami hanya melaksanakan kegiatan yang melibatkan kader saja. Jarang sekali kami melakukan kegiatan yang melibatkan eksternal. Kalau pun ada maka itu kegiatan yang sudah lumrah dilaksanakan, maulid nabi, isra mi'raj dan semisalnya.

Sebenarnya kegiatan kami, rutin disetiap pekan, kegiatan pengkaderan, olahraga, bakti sosial sudah menjadi program rutin kami. Disetiap enam bulan sekali ada kegiatan tsaqofah, kegiatan rekrutmen dan juga mukhayam untuk setahun sekali. Dua kegiatan di terakhir adalah kegiatan yang melibatkan eksternal. Namun hari ini Seminar Kemuslimahan adalah kegiatan perdagangan dikepungurusan periode ini.

"Baiklah acara akan segera kita mulai, hadirin di mohon menempati tempat yang sudah disediakan. Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh." Ucap Nana Korompot, membuka kegiatan. Ia bertindak sebagai MC kegiatan ini.

Perlahan, ia masuk diruangan dimana kami duduk mendengarkan materi seminar, langkahnya pelan, sambil melempar senyum kepada beberapa orang yang ia kenal. Panitia mempersilahkan ia duduk di kursi paling depan, namun ia menolak dan memilih kursi di urutan kedua bagian kiri. Entah apa alasannya, namun terlihat ia menarik nafas dalam-dalam, dan menenangkan diri yang terasa gugup.

Sebenarnya, Ia bukan orang baru, hanya saja ini, bukan lagi gengnya dulu. Ia dulu pernah menjadi penggerak di organisasi ini. Bahkan ketua umum yang hari ini memimpin adalah hasil rekrutmen nya. Hanya saja memang hampir 3 tahun lebih ia menghilang dari aktivitas dan hiruk-pikuk gerakan dakwah ini.

Sesaat ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan HP mahalnya itu. Terlihat ia tidak terlalu konsen mendengar kan materi yang disampaikan oleh seorang wanita bergelar S2 itu. Ia membuka HP mencari kesibukan lain, mungkin ia ingin mencairkan suasana. Beberapa panitia melihatnya, ada yang terkejut campur bahagia. Tak terkecuali Riska, ketua umum yang dulu satu kelompok kajian dengannya.

Ia pun mulai melihat ada banyak yang berubah, ada kemajuan, namun ada yang perlu dikritisi, namun mulut nya membisu menyampaikan hasil pengamatan singkat nyan itu. "Siapa aku saat ini, baru juga tiba kok harus menyampaikan kritik kepada mereka yang dulu ku tinggalkan." Gumamnya.


"Nanti aku malah dibilang, "kemana aja anti? Baru datang sudah nodong orang!" Tersentak ia dalam dugaan tersebut, "astagfirullah". Ucapnya menyesal.

Menduga hal buruk kepada sesama muslim bukanlah kebiasaannya, apa lagi mereka adalah orang-orang yang tengah berjuang.

"Dalam dakwah itu ada namanya seleksi rabani, dimana mereka yang tidak sungguh-sungguh akan tergantikan. Prinsip saya, dalam dakwah saya tidak mau di ganti kan. Sebab kalau tergantikan itu artinya yang menggantikan itu yang terbaik. Olehnya apapun yang terjadi saya akan tetap bertahan dalam dakwah." Tandas Windi Astuti di atas podium dengan suara yang tetap bersahaja.

Ucapan itu membangun nya dari lamunan panjangnya. Seakan kalimat itu ditunjukkan kepadanya, "mana mungkin, kita saja baru ketemu." Batinnya berucap.

Hatinya semakin remuk, dengan langkah konyol yang pernah ditapaki nya. "Mungkin benar, betapa pun banyak kekurangan mereka hari ini, toh kenyataannya mereka yang terbaik. Dan aku sendiri telah tergantikan". Bisik batinya yang penuh rasa penyesalan.

Allahu Akbar Allahu Akbar, kumandang adzan di masjid terdekat. Hanin, suara panggilan dari  seorang temannya. "Tunggu Ran, saya mau ketemu ustdz gufran, beliau dimana ya?" Tanya Hanin yang tak lagi bisa menahan unek-unek batinya. "Itu disana" kata Rani. Entar yah Rani, ada yang perlu saya bicarakan dengan Ustdz Gufran.

"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, ustdz," ucap Hanin. Wa'alaikumusalam, wahmatullahi wa barakatuh, masya Allah, Hanin." Ucap Ustdz Gufran yang agak terkejut.

"Hanin, apa kabar? Lama sekali anti tak kelihatan. Allah Karim. Semoga anti selalu dalam lindungan Allah SWT". Ucap Ustdz Gufran.

"Alhamdulillah ustdz saya baik-baik saja. Afwan ustd, saya baru nongol lagi." Ucap Hanin sambil melipatkan kedua telapak tangannya.

"Iya, tidak apa, kadang-orang perlu merenung dan menyepi untuk mendapatkan energi baru, ibarat ulat ia harus melewati proses pertapaannya menjadi kepompong untuk kemudian menjadi kupu-kupu cantik." Ucap ustdz Gufran, menenangkan Hanin yang terlihat larut dalam penyesalan nya.

"Ana menyesal ustdz, ana pengen kembali lagi ustdz". Ungkap Hanin.

"Al-hamdulillah, dakwah ini akan semakin besar jika orang-orang terbaik umat ini berkumpul dan bersatu padu membesarkan agama Islam ini." Jawab Ustdz Gufran.

"Ana lihat ustdz, bidang yang dulu ana pegang kurang berkembang ya...". Keluh Hanin.

Ternyata diam-diam hanin suka memantau akun resmi organisasi itu. Dan mengikuti perkembangannya, walau hanya sebatas di media sosial.

"Kalau begitu, anti ambil peran, sebab pada hakikatnya kitalah yang membutuhkan dakwah ini, bukan dakwah yang membutuhkan kita. Kendati demikian, dakwah akan semakin besar dan memberikan kontribusi terhadap umat dan bangsa, jika orang-orang terbaik umat ini berhimpun didalam satu wadah kokoh". Ujar sutdz Gufran.

"Islam akan tetap bangkit dan berjaya tanpa kita. Namun kita kehilangan momen untuk berkontribusi, jika kita terus berpangku tangan. Jangan hanya mau jadi penonton, sebab sebahagianya penonton dalam momen kemenangan, tak akan pernah menyamai kebahagiaan para pemenang". Nasehat ustdz Gufran.

"Iya ustdz, saya berjanji akan mengambil peran untuk kejayaan Islam dan bangsa ini, saya sudah rindu dengan dakwah ini, semoga rindu membawaku ke surga" ucap Hanin.

"Hanin!"...... Suara panggilan dari kejauhan, panggilan yang tak bisa. Hanin pun menoleh mencari suara itu. Dan .............

Bersambung.

Bay: SAM

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

0 comments:

Post a Comment